Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak selalu memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sampah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, makanan, serta daun dapat mereka olah menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya pupuk organik cair.
“Coba kita pikirkan, sepuluh tahun lagi TPA Jumantono akan seperti apa kalau persoalan sampah ini tidak kita selesaikan dari sekarang. Saya sendiri juga membuat pengolahan sampah di rumah,” ungkapnya.
BACA JUGA: Sumanto Dukung Gus Yasin, Pemprov Jateng Harus Leluasa Awasi dan Tindak Dapur MBG
Dalam edukasi pengelolaan sampah yang Sumanto sampaikan kepada warga, pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair dapat warga lakukan menggunakan teknologi sederhana berbasis ember. Metode ini harapannya mudah warga terapkan di lingkungan rumah tangga tanpa membutuhkan peralatan yang rumit.
Prosesnya berawal dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sisa sayuran, buah-buahan, dan daun bisa warga pisahkan dari plastik, logam, kaca, serta bahan lain yang tidak sesuai untuk pengolahan. Sampah organik kemudian dipotong menjadi bagian kecil dan dimasukkan ke wadah pengolahan dengan bahan pendukung yang sesuai.
Sumanto berharap pilah sampah dari rumah tangga
Sistem ember dapat warga rancang dengan wadah bagian atas untuk menampung bahan organik dan wadah bagian bawah untuk menampung cairan hasil proses pengolahan. Dengan pemilahan yang benar dan pengelolaan yang tepat, sampah rumah tangga berpeluang menjadi pupuk untuk tanaman sayur, buah, maupun tanaman hias.
Meski demikian, pupuk cair sebaiknya tak langsung warga gunakan tanpa pengolahan dan pengujian yang sesuai. Pengenceran serta uji coba pada sebagian kecil tanaman perlu ada terlebih dahulu untuk memastikan penggunaannya aman bagi tanaman.





