KARANGANYAR, beritajateng.tv – Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mengajak masyarakat memulai pengelolaan sampah dari rumah tangga. Yaitu dengan memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk organik cair. Langkah sederhana ini menjadi salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah yang terus meningkat, sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ajakan tersebut Sumanto sampaikan saat menggelar reses di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Selasa, 13 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti persoalan sampah yang semakin mendesak. Terutama keterbatasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tak lagi mampu menampung seluruh sampah yang masyarakat hasilkan.
Sumanto mengatakan, persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah. Masyarakat perlu mengambil peran dengan mengelola sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
“Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memerintahkan agar kita mengurusi sampah. Sebagai kader partai, perintah itu saya ikuti karena memang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Sumanto.
Menurutnya, sampah rumah tangga harus menjadi perhatian bersama. Sebab, jika seluruh sampah hanya masyarakat kumpulkan dan dibuang ke TPA tanpa pengurangan dari sumbernya, kapasitas tempat pembuangan akan semakin terbatas.
Ia mencontohkan, persoalan sampah di sejumlah daerah menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas pengolahan saja belum tentu menyelesaikan masalah apabila volume sampah terus bertambah.

“TPA sudah tidak muat. TPA mau nambah lagi, siapa yang mau? Ketika mau membangun TPA baru, kita harus meminta izin warga, dan belum tentu masyarakat bersedia,” katanya.
Sampah perlu pengelolaan
Sumanto juga menyinggung persoalan sampah di Kabupaten Karanganyar. Menurutnya, sekitar 60–70 persen sampah yang ada merupakan sampah rumah tangga yang perlu mendapat perhatian serius melalui pemilahan dan pengolahan sejak awal.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak selalu memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sampah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, makanan, serta daun dapat mereka olah menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya pupuk organik cair.
“Coba kita pikirkan, sepuluh tahun lagi TPA Jumantono akan seperti apa kalau persoalan sampah ini tidak kita selesaikan dari sekarang. Saya sendiri juga membuat pengolahan sampah di rumah,” ungkapnya.
BACA JUGA: Sumanto Dukung Gus Yasin, Pemprov Jateng Harus Leluasa Awasi dan Tindak Dapur MBG
Dalam edukasi pengelolaan sampah yang Sumanto sampaikan kepada warga, pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair dapat warga lakukan menggunakan teknologi sederhana berbasis ember. Metode ini harapannya mudah warga terapkan di lingkungan rumah tangga tanpa membutuhkan peralatan yang rumit.
Prosesnya berawal dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sisa sayuran, buah-buahan, dan daun bisa warga pisahkan dari plastik, logam, kaca, serta bahan lain yang tidak sesuai untuk pengolahan. Sampah organik kemudian dipotong menjadi bagian kecil dan dimasukkan ke wadah pengolahan dengan bahan pendukung yang sesuai.
Sumanto berharap pilah sampah dari rumah tangga
Sistem ember dapat warga rancang dengan wadah bagian atas untuk menampung bahan organik dan wadah bagian bawah untuk menampung cairan hasil proses pengolahan. Dengan pemilahan yang benar dan pengelolaan yang tepat, sampah rumah tangga berpeluang menjadi pupuk untuk tanaman sayur, buah, maupun tanaman hias.
Meski demikian, pupuk cair sebaiknya tak langsung warga gunakan tanpa pengolahan dan pengujian yang sesuai. Pengenceran serta uji coba pada sebagian kecil tanaman perlu ada terlebih dahulu untuk memastikan penggunaannya aman bagi tanaman.
Sumanto berharap gerakan pengelolaan sampah dapat berawal dari satu rumah, kemudian meluas ke tingkat rukun tetangga (RT), hingga menjadi kebiasaan bersama masyarakat. Upaya tersebut dapat melalui sosialisasi dan pemilahan sampah pada pekan pertama, berlanjut dengan demonstrasi alat dan panduan pengolahan pada pekan kedua, kemudian pendampingan serta evaluasi pada pekan ketiga dan keempat.
Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi kunci penting dalam mengatasi persoalan sampah. Dengan keterlibatan setiap rumah tangga, beban TPA dapat terkurangi dan sampah organik yang sebelumnya terbuang dapat warga manfaatkan kembali.
“Mulai dari rumah, bergerak bersama. Kalau sampah rumah tangga bisa kita selesaikan dari sumbernya, lingkungan akan lebih bersih dan manfaatnya bisa kita rasakan bersama,” pungkasnya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





