SEMARANG, beritajateng.tv – Sekitar lima ribu warga negara asing (WNA) diduga masuk dalam sasaran sindikat penipuan online internasional ‘pig butchering’ yang beroperasi di Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah.
Jaringan tersebut melibatkan pelaku asal Indonesia, Nepal, hingga Myanmar dengan mayoritas target berasal dari Amerika Serikat.
Dari ribuan target tersebut, polisi mencatat sekitar 150 orang telah melanjutkan komunikasi hingga menyetorkan dana ke investasi kripto palsu yang jaringan pelaku kendalikan.
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengatakan pihaknya mengamankan total 38 pelaku dalam perkara tersebut.
Mereka terdiri dari 27 warga negara Indonesia, tujuh warga negara Nepal, serta empat warga negara Myanmar.
“Jadi ini merupakan sindikat internasional yang kami ungkap, yang mana melibatkan warga negara asing yaitu sejumlah 11 orang. Dari hasil pengungkapan, kita berhasil mengamankan 38 orang,” ujar Himawan saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Ditreskrimum Polda Jawa Tengah, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jumat, 22 Mei 2026 sore.
BACA JUGA: Marak Judol, Pinjol, dan MLM Berkedok Investasi Menyasar Anak Muda, Ini Bahayanya
Himawan mengungkap, para pelaku lebih banyak menyasar warga negara Amerika Serikat melalui aplikasi perkenalan dan komunikasi digital. Menurutnya, sindikat tersebut sengaja menghindari target dari Indonesia karena berpotensi lebih mudah menimbulkan kecurigaan.
“Korbannya itu rata-rata adalah warga negara asing, karena model yang mereka pakai adalah orang Indonesia,” kata Himawan.
Ia menjelaskan model perempuan yang digunakan jaringan tersebut menjadi salah satu alasan pelaku lebih memilih korban dari luar negeri.
“Dia tidak mungkin menyasar ke orang Indonesia karena pasti dia tahu. Jadi sasarannya adalah warga negara Amerika, rata-rata warga negara Amerika,” sambungnya.
Meski demikian, polisi masih mendalami kemungkinan adanya korban dari negara lain.
“Ya, ini masih dilakukan pendalaman. Tapi rata-rata itu Amerika,” ujarnya.
Dari Lima Ribu Orang, Sekitar 150 Korban Tercatat Sudah Menyetorkan Dana
Meski berhasil menjaring ribuan target, tidak seluruh calon korban melanjutkan komunikasi hingga tahap investasi.





