“Enggak ikut mudik gratis karena waktunya enggak fleksibel, ada jadwalnya. Kalau mudik sendiri kan, bisa nentuin sendiri bersama keluarga di kampung mau berapa lama,” jelasnya.
Dari sisi biaya, moda ini juga teranggap lebih terjangkau. Sepanjang perjalanan, Jarwo baru menghabiskan sekitar Rp90.000 untuk bahan bakar, dengan total pengeluaran sekitar Rp300.000 termasuk kebutuhan makan.
Cerita serupa datang dari Harno (40), pemudik lain asal Bekasi yang menuju Wonogiri. Ia berangkat sejak pagi hari bersama dua rekannya, masing-masing menggunakan sepeda motor.
“Bawa motor sendiri-sendiri. Lama karena sering istirahat. Soalnya kan penerangan minim, jalannya juga tambalannya ada yang bergelombang,” ungkap Harno.
BACA JUGA: Cegah Penumpukan di KM 429A, Polres Semarang Arahkan Pemudik ke Rest Area KM 439A
Bagi para pemudik roda dua seperti Jarwo dan Harno, perjalanan panjang ini bukan sekadar soal kecepatan mencapai tujuan. Di tengah kemacetan, kondisi jalan yang menantang, dan rasa lelah, ada kebersamaan keluarga yang tetap mereka jaga sepanjang perjalanan menuju kampung halaman. (*)
Editor: Farah Nazila





