Bahan bakunya cukup memanfaatkan drum bekas (200 liter) serta ban dalam bekas untuk menampung hasil gas metan. Sehingga alatnya pun gampang memindahnya.
“Untuk instalasi juga dapatnya mudah, karena banyak toko bangunan yang jual,” lanjut Ketua Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan ini.
Juwari menambahkan, tidak hanya gas metan, air dari proses fermentasi (bioslurry) juga bisa untuk menyuburkan tanaman, yakni berupa pupuk cair.
Saat ini sudah ada 15 rumah yang memanfaatkan biogas sampah rumah tangga. Sesuai Program Kampung Iklim (ProKlim), inovasi ini akan dikembangkan di seluruh Desa Manggihan.
“Hanya saja, untuk saat ini masih ada beberapa kendala, terutama terkait penyediaan drum bekas untuk pembuatan mini biodigester,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





