Santi sendiri mulai menekuni usaha boneka handmade sejak 2017. Awalnya ia membuat boneka dengan konsep pakaian kasual. Namun seiring waktu, ia merasa setiap boneka perlu memiliki karakter dan tema khusus agar lebih mudah dikenali pasar.
Kini, ia membuat dua ukuran boneka yakni 12 sentimeter dan 20 sentimeter. Seluruh proses pengerjaannya manual, mulai dari menjahit pakaian, membentuk rambut, hingga membuat ekspresi wajah.
“Sehari paling maksimal bisa lima boneka, paling sulit bikin bagian rambutnya dan ekspresi wajah pada boneka,” terangnya.
Salah satu karakter yang paling diminati adalah boneka bernama Sinok, yakni Nona Kriwil berambut cepol dua yang banyak digunakan sebagai gantungan tas.
Selain model reguler, Santi juga melayani boneka custom berupa miniatur seseorang dengan detail rambut dan aksesoris sesuai permintaan pembeli.
Cocok Jadi Souvenir Khas Indonesia
Menurut Santi, konsep boneka berkebaya membuat Nona Kriwil banyak masyarakat minati sebagai souvenir atau buah tangan khas Indonesia. Pembelinya tak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga wisatawan mancanegara.
“Secara presentase, pembeli boneka paling banyak terdominasi oleh pasar lokal (80 persen), sisanya 20 persen pembeli luar negeri seperti Rusia, Belanda, Swedia dan lainnya,” ungkapnya.
Meski begitu, Santi mengaku bisnis kerajinan boneka handmade masih memiliki tantangan, terutama soal apresiasi masyarakat terhadap karya buatan tangan.
Ia menilai masih banyak orang yang belum memahami proses panjang di balik pembuatan satu boneka handmade, sehingga menganggap harganya mahal.
“Semisal, setiap boneka dihargai Rp50 ribu, lantas bagaimana kerja kita selama berjam-jam membuat satu boneka, belum lagi modal untuk belanja bahan-bahannya,” katanya.
BACA JUGA: Sampaikan Dukungan, Anak Muda Jatim Ramai-Ramai Bawa Boneka Pinguin Temui Ganjar
Meski menghadapi tantangan tersebut, Santi optimistis kerajinan boneka handmade dengan konsep khusus masih memiliki peluang besar di pasar.
“Sejauh bisa mencari peluang dengan konsep boneka khusus, maka peluang itu masih terbuka lebar,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





