SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah gempuran mainan modern dan produk pabrikan, sebuah boneka handmade asal Kota Semarang hadir dengan konsep berbeda. Boneka bernama Nona Kriwil itu tak sekadar menjadi kerajinan tangan, tetapi juga membawa identitas budaya Indonesia melalui kebaya dan senyum ramah khas masyarakat Nusantara.
Boneka tersebut dibuat oleh pengrajin asal Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Kota Semarang, Darum Santi. Dengan telaten, ia memotong kain, merajut benang, hingga membentuk ekspresi wajah boneka satu per satu secara manual.
Ciri khas utama Nona Kriwil terlihat dari pakaian kebaya yang dikenakan serta rambut keriting atau bergelombang yang menjadi asal-usul namanya.
“Nona Kriwil adalah boneka kebaya, mengapa kebaya? Karena pakaian ini sudah di – tetapkan sebagai warisan tak benda oleh UNESCO,” ujar Santi pada Sabtu, 16 Mei 2026.
BACA JUGA: Pertama Kali Meriahkan Imlek di Sam Poo Kong, Konjen Tiongkok Bagi-Bagi Boneka Panda dan Tulis Kuplet untuk Warga
Menurut Santi, konsep budaya sengaja terpilih agar boneka buatannya memiliki identitas yang kuat sebagai produk khas Indonesia, khususnya Semarang. Senyum pada wajah boneka juga sebagai simbol keramahan masyarakat Indonesia.
Tak hanya mengangkat budaya, Nona Kriwil juga membawa pesan pelestarian lingkungan. Sebagian bahan berasal dari kain limbah pabrik maupun sisa kain penjahit yang kemudian terolah kembali menjadi boneka bernilai seni.
“Nah, dua hal itu, budaya dan pelestarian lingkungan, menjadi pembeda antara boneka Nona Kriwil dengan boneka-boneka buatan tangan lainnya,” katanya.
Berawal dari Julukan di Media Sosial
Nama Nona Kriwil ternyata muncul secara spontan dari komentar teman-temannya di media sosial. Saat pertama kali mengunggah hasil karyanya di Facebook dan Instagram, banyak yang menyebut boneka itu sebagai “boneka kriwil” karena rambut keritingnya.
“Dulu waktu awal bikin boneka ini teman-teman di Facebook dan Instagram bilang boneka kriwil karena lihat rambutnya yang kriwil, ya sudah aku namakan boneka Nona Kriwil,” jelasnya.
Santi sendiri mulai menekuni usaha boneka handmade sejak 2017. Awalnya ia membuat boneka dengan konsep pakaian kasual. Namun seiring waktu, ia merasa setiap boneka perlu memiliki karakter dan tema khusus agar lebih mudah dikenali pasar.
Kini, ia membuat dua ukuran boneka yakni 12 sentimeter dan 20 sentimeter. Seluruh proses pengerjaannya manual, mulai dari menjahit pakaian, membentuk rambut, hingga membuat ekspresi wajah.
“Sehari paling maksimal bisa lima boneka, paling sulit bikin bagian rambutnya dan ekspresi wajah pada boneka,” terangnya.
Salah satu karakter yang paling diminati adalah boneka bernama Sinok, yakni Nona Kriwil berambut cepol dua yang banyak digunakan sebagai gantungan tas.
Selain model reguler, Santi juga melayani boneka custom berupa miniatur seseorang dengan detail rambut dan aksesoris sesuai permintaan pembeli.
Cocok Jadi Souvenir Khas Indonesia
Menurut Santi, konsep boneka berkebaya membuat Nona Kriwil banyak masyarakat minati sebagai souvenir atau buah tangan khas Indonesia. Pembelinya tak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga wisatawan mancanegara.
“Secara presentase, pembeli boneka paling banyak terdominasi oleh pasar lokal (80 persen), sisanya 20 persen pembeli luar negeri seperti Rusia, Belanda, Swedia dan lainnya,” ungkapnya.
Meski begitu, Santi mengaku bisnis kerajinan boneka handmade masih memiliki tantangan, terutama soal apresiasi masyarakat terhadap karya buatan tangan.
Ia menilai masih banyak orang yang belum memahami proses panjang di balik pembuatan satu boneka handmade, sehingga menganggap harganya mahal.
“Semisal, setiap boneka dihargai Rp50 ribu, lantas bagaimana kerja kita selama berjam-jam membuat satu boneka, belum lagi modal untuk belanja bahan-bahannya,” katanya.
BACA JUGA: Sampaikan Dukungan, Anak Muda Jatim Ramai-Ramai Bawa Boneka Pinguin Temui Ganjar
Meski menghadapi tantangan tersebut, Santi optimistis kerajinan boneka handmade dengan konsep khusus masih memiliki peluang besar di pasar.
“Sejauh bisa mencari peluang dengan konsep boneka khusus, maka peluang itu masih terbuka lebar,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





