SEMARANG, beritajateng.tv – Deretan kaset pita lawas berjajar di dalam sebuah warung nasi Padang di Kota Semarang. Di sini, Deny (53) menawarkan pengalaman berbeda bagi siapapun yang ingin bernostalgia dengan berburu pita kaset album musik lawas.
Kaset pita itu tertata dalam tumpuk-tumpukan di meja maupun rak dinding. Sebagiannya sejajar dengan menu-menu kuliner nasi Padang yang dijajakan untuk pelanggan.
Deny merupakan generasi ketiga pedagang nasi Padang sekaligus penjual kaset pita tersebut. Dia meneruskan kedua usaha yang telah berdiri sejak 1977, di Rumah Makan Padang Jaya, Ruko Bubakan Baru Jalan KH Agus Salim, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang.
Ya, di tengah perkembangan jaman mengonsumsi musik melalui layanan atau teknologi digital, nostalgia pita kaset menjadi konsep retronomic yang masih Deny geluti.
“Dahulu ceritanya awaln menjual nasi (Padang), terus punya kaset yang kita putar. Ada orang beli, terus langsung jualan kaset pita,” tutur Deny di warungnya, Rabu, 14 Oktober 2026.
BACA JUGA: Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia
Dia bercerita, musik setiap pemutaran musik dari kaset pita untuk menemani pelanggan yang sedang makan. Kebiasaan tersebut justru membuka peluang usaha lain.
Deny mengatakan, ada pelanggan yang memulai membeli kaset pita usai tertarik mendengarkan lagu-lagu yang diputar. Berjalannya wakytu, nasi Padang dan kaset menjadi dua bagian yang tak terpisahkan dari warung tersebut.
“Tujuannya kita menghibur. Makan kalau suasana tenang ini kan enggak enak. Ada musik kita bisa terhibur,” katanya.
Menurut Deny, menghadirkan musik di warung juga menjadi cara sederhana untuk memberikan hiburan kepada pelanggan tanpa harus mendatangkan artis. Dari situlah usaha penjualan kaset berkembang, bahkan pernah mencapai masa kejayaan ketika kaset terjual dalam jumlah besar setiap harinya.
Anak Sekolah hingga Mahasiswa Ikut Berburu Kaset
Di tengah perubahan zaman, Deny saat ini, melihat kelompok pembeli yang menarik, yakni anak-anak muda. Mereka datang dari kalangan pelajar hingga mahasiswa untuk mencari kaset musik yang telah menemani pada zaman orang tua mereka.
Salah satu pengalaman yang masih dia ingat yakni kedatangan seorang pelajar SMP dari Kudus. Anak tersebut rela mengayuh sepeda dari daerah asalnya untuk mencari kaset grup musik yang dia sukai.
“Ada anak SMP dari Kudus naik sepeda. Dia cari kaset Dewa 19,” katanya.
Ada pula anak sekolah dasar yang datang karena menyukai musik lawas. Menurut Deny, ketertarikan anak tersebut terhadap kaset dapat pengaruh dari sang ayah.
“Anak SD juga pernah, tapi dari Semarang. Dia suka kaset, katanya [tahu] dari bapaknya,” ucap Deny.
BACA JUGA: Nongkrong Sambil Main Mahjong, Ruang Interaksi dalam Tren di Kota Pelabuhan Semarang
Pilihan musik mereka pun beragam. Ada yang mencari Dewa dan Sheila on 7, sementara lainnya berburu album band rock internasional seperti Nirvana, Red Hot Chili Peppers, Guns N’ Roses, dan Bon Jovi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kaset pita tidak hanya menjadi barang kenangan bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an. Bagi sebagian anak muda sekarang, kaset justru menawarkan pengalaman menikmati musik yang berbeda dari mendengarkan lagu melalui ponsel.
Ketertarikan tersebut juga tidak selalu berkaitan dengan usia penyanyi atau tahun perilisan album. Deny bilang, beberapa pembeli memang sengaja mencari rilisan lawas. Sedangkan yang lain ingin memiliki album fisik dari grup musik yang masih mereka dengarkan hingga sekarang.
Bahkan, Deny mengaku pernah menjumpai pembeli yang membeli kaset bukan untuk diputar. Kaset-kaset itu pembeli gunakan sebagai hiasan atau pembatas ruangan. Kaset pita itu memiliki fungsi baru di luar kegunaan awalnya sebagai media penyimpan musik.
Kaset Dewa 19, Sheila on 7, hingga Nirvana Masih Dicari
Di antara ribuan kaset yang tersusun, ada banyak nama musisi Indonesia dan mancanegara dari berbagai era. Grup musik Dewa 19, Sheila on 7, Ungu, ST12 (sekarang Setia Band), Stinky, hingga Element termasuk grup musik yang masih pembeli cari.
Sementara itu, untuk musik internasional, Deny menyebut nama-nama seperti Oasis, Guns N’ Roses, Bon Jovi, Nirvana, Madonna, dan sejumlah musisi lain yang albumnya masih tersimpan di warung tersebut.
Menariknya, kaset yang dulu mungkin dianggap biasa kini kembali dicari. Sebagian pembeli datang bukan sekadar untuk mendengarkan musik. Akan tetapi juga untuk mendapatkan album fisik yang sudah sulit ditemukan di pasaran.
Tarif Kaset Pita
Deny mengaku tidak secara khusus membedakan harga berdasarkan kelangkaan atau popularitas musisi. Selama kaset tersedia, dia memasang harga yang relatif seragam, yakni sekitar Rp20 ribu per kaset.
“Kami bukan kolektor. Rata semua, Rp20 ribu. Kalau harus mencari kaset tertentu, kami enggak berani. Karena memang bukan kolektor,” bilangnya.
Karena itu, Deny menyarankan, pembeli perlu menyesuaikan pilihan dengan stok yang masih tersedia. Sejumlah album populer yang dahulu banyak pembelu buru kini sudah habis. Sedangkan kaset-kaset lainnya masih memenuhi rak warung.
Meski tidak menghitung satu per satu jumlah koleksinya, Deny memperkirakan ada ribuan kaset yang masih tersimpan. Kondisi kaset secara umum masih cukup baik. Dia tidak bisa memastikan kualitas setiap kaset karena jumlahnya terlalu banyak untuk diperiksa satu per satu.
Masa Kejayaan Kaset di Era 1980-an
Deny masih mengingat betul masa ketika kaset menjadi barang yang mudah terjual. Pada periode 1987 hingga 1990-an, permintaan kaset begitu tinggi sehingga sejumlah album bisa habis hanya dalam hitungan hari.
Dia mencontohkan album-album musik luar negeri yang kala itu populer. Di antaranya seperti Britney Spears, Celine Dion, Madona, serta sejumlah musisi lain yang banyak digemari masyarakat.
“Dulu tahun 1987, 1989, 1990 itu jual kaset seperti jual kacang goreng,” katanya mengenang.
BACA JUGA: Gen Z, Meja Tarot, dan Ruang Refleksi Diri
Pada masa itu, Deny masih bisa memperoleh kaset baru dari distributor dan toko musik. Semarang memiliki sejumlah tempat penjualan kaset yang menjadi langganannya, termasuk Indomusik dan toko-toko lain yang kini sudah tidak beroperasi seperti dahulu.
Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Deny juga pernah berbelanja ke Jakarta, khususnya kawasan Glodok. Sementara itu, kaset lagu-lagu daerah biasa diperolehnya dari kawasan Pasar Senen.
Kini, perubahan cara masyarakat menikmati musik perlahan mengubah keadaan. Kehadiran format musik lain, kemudian menyusul layanan digital, membuat penjualan kaset tidak lagi seramai dulu.
Deny mengatakan, produksi kaset baru yang biasa dia peroleh sudah berhenti sekitar 2012. Sejak itu, stok dagangannya lebih banyak berasal dari kaset bekas milik orang lain yang masih layak jadi barang dagangan.
Pembelian stok kaset bekas terakhir kali dia lakukan sekitar satu hingga dua tahun lalu. Adapun, dia kini memilih menghentikan sementara pembelian karena jumlah kaset yang tersedia masih sangat banyak.
Bertahan dengan Cara Sederhana
Denhy mengatakan, jumlah pembeli saat ini tidak lagi seperti masa kejayaan kaset. Akan tetapi, dia bilang akan tetap mempertahankan usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya selama puluhan tahun.
Baginya, warung nasi Padang dan kaset merupakan satu kesatuan yang sejak awal memang tidak dirancang untuk menjadi toko kaset konvensional.
Dia juga tidak menempatkan diri sebagai kolektor yang sengaja memburu rilisan langka. Kaset pita yang dia jual merupakan barang dagangan. Artinya, dia tidak selalu mengetahui secara terperinci jumlah maupun tingkat kelangkaan setiap album.
Kondisi tersebut membuat warungnya memiliki karakter berbeda dari toko koleksi musik yang secara khusus mencari rilisan tertentu. Pembeli bisa datang untuk makan, melihat-lihat rak kaset, lalu menemukan album yang mungkin sudah lama mereka cari.
Deny pun tidak bisa memastikan bagaimana nasib ribuan kaset itu pada masa mendatang. Sejalan dengan itu, dia bilang, selama masih ada orang yang tertarik membeli, koleksi tersebut tetap menjadi bagian dari usahanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





