Jateng

Optimis Investasi di Jateng Tak Tergoncang Isu Perang Dunia Ketiga, Pemprov: Dominasi Investor Kami Asia Timur

×

Optimis Investasi di Jateng Tak Tergoncang Isu Perang Dunia Ketiga, Pemprov: Dominasi Investor Kami Asia Timur

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, saat dijumpai di kantornya, Kamis, 22 Januari 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, saat dijumpai di kantornya, Kamis, 22 Januari 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) meyakini iklim investasi di Jawa Tengah masih tetap menarik di tengah gonjang-ganjing kondisi global, termasuk isu Perang Dunia Ketiga yang dikhawatirkan berdampak pada negara-negara investor.

Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyebut potensi dampak konflik global terhadap investasi memang ada. Namun, struktur ekspor dan ekosistem industri di Jawa Tengah ternilai masih memiliki daya saing.

“Mungkin berimbas ya. Kalau melihat potensi ekspor Jawa Tengah itu sekitar 45 sekian persen ke Amerika, dan itu terdominasi satu jenis, yaitu alas kaki. Memang ekosistem industri alas kaki di Indonesia itu ada di Jawa Tengah,” ujar Sakina saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menjelaskan, karakter industri Jawa Tengah berbeda dengan provinsi lain. Menurutnya, Jawa Barat lebih kuat di ekosistem industri manufaktur kendaraan, sementara Jawa Tengah menjadi basis utama industri alas kaki.

“Kalau berbicara perbandingan dengan provinsi lain, Jawa Barat itu ekosistemnya industri manufaktur kendaraan. Tapi kalau industri alas kaki, itu ada di Jawa Tengah,” katanya.

BACA JUGA: Realisasi Investasi Jateng Terendah se-Pulau Jawa, DPMPTSP: Hanya 8 Kawasan Industri

Sakina mengakui, asosiasi industri juga telah menyampaikan peringatan dan antisipasi terkait kemungkinan perubahan global, termasuk perang tarif maupun perubahan regulasi internasional.

Kendati begitu, ia menyebut kondisi tersebut belum menggerus minat investasi ke Jawa Tengah.

“Dari Asosiasi Persepatuan Indonesia memang ada semacam warning-warning dan persiapan-persiapan ketika ada perang tarif atau regulasi yang berubah. Tapi kami melihat di tahun ini, ketika ada tarif dari Amerika yang penetapannya sekian persen lalu turun dan lain sebagainya, ternyata Jawa Tengah masih menarik,” katanya.

Ia menambahkan, hingga kini investasi di Jawa Tengah masih terdominasi negara-negara Asia Timur.

“Dominasinya investasi masih dari Asia Timur yang terus bertengger di situ,” ujarnya.

Menurut Sakina, hambatan ekspor langsung dari China ke Amerika justru membuka peluang bagi Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

“Artinya mungkin ada kendala ketika ekspor langsung dari China ke Amerika, tapi tidak untuk dari Indonesia ke Amerika. Ini yang kemudian menjadi daya tarik dan competitiveness untuk melakukan investasi di Jawa Tengah,” katanya.

Investasi Alas Kaki di Boyolali Berjalan, Klaten Geser Lokasi

Terkait perkembangan investasi alas kaki di daerah, Sakina menyampaikan proyek di Kabupaten Boyolali telah memasuki tahap konstruksi. Sementara untuk rencana investasi di Kabupaten Klaten, Sakina memastikan proyek tersebut tidak ada pembatalan, melainkan dipindahkan karena persoalan tata ruang.

“Boyolali sudah berproses dan sudah konstruksi. Informasinya sudah sekitar 60 persen. Untuk yang Klaten memang geser. Karena kemarin tidak sesuai dengan tata ruang. Lahan yang diminati itu LSD, lahan sawah dilindungi,” jelasnya.

Ia menyebut investor telah kembali ke DPMPTSP untuk meminta data kawasan peruntukan industri (KPI) agar tetap bisa berinvestasi di Jawa Tengah. Adapun nilai investasi proyek alas kaki tersebut perkiraannya mendekati Rp1 triliun dan terealisasikan secara bertahap.

“Investornya ke tempat kami untuk meminta data KPI. Jadi tetap di Jawa Tengah. Nilainya mendekati Rp1 triliun, tapi bertahap. Tahap pertama belanja modalnya lahan dan konstruksi,” ujarnya.

BACA JUGA: Janji Bawa Limbah Minyak Dubai ke Jateng, Ahmad Luthfi: Saya Umrah Pun Masih Mikir Investasi

Sakina menambahkan, pencatatan realisasi investasi berdasarkan laporan kegiatan penanaman modal yang masuk melalui sistem OSS.

“Ketika beli lahan dilaporkan, konstruksi dilaporkan, instalasi juga dilaporkan. Itu yang ditarik sebagai realisasi investasi,” pungkasnya. (*)

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp