SEMARANG, beritajateng.tv – Praktik titip-menitip calon murid dengan membawa nama pejabat rupanya masih mewarnai pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Bahkan, dua sekolah favorit di Kota Semarang, yakni SMAN 1 Semarang dan SMAN 3 Semarang, mengaku masih menerima telepon maupun permintaan bantuan dari wali murid yang mengatasnamakan pejabat atau anggota dewan.
Meski demikian, kedua sekolah menegaskan seluruh proses penerimaan berlangsung melalui sistem sehingga tidak ada ruang untuk praktik titipan.
Ketua SPMB SMAN 1 Semarang, Budi Handoyo, mengakui masih ada sejumlah orang tua yang mencoba meminta bantuan dengan membawa nama pejabat. Namun pihak sekolah menegaskan seluruh proses penerimaan murid mengikuti sistem yang telah ditetapkan.
“Ya, ada. Cuman kan ya apa pun juga kan kami sampaikan bahwa ‘no titip, no jastip’. Sesuai dengan sistem aplikasinya sudah bagus,” ujar Budi Handoyo saat beritajateng.tv jumpai di aula SMAN 1 Semarang.
Menurut pengakuannya, jumlah wali murid yang mencoba melakukan pendekatan semacam itu tidak banyak. “Enggak sampai belasanlah, di bawah 10,” tutur Budi.
BACA JUGA: Ramai Soal Titip Siswa ke DPRD, Rahmulyo: Kami Tak Bisa Intervensi SPMB
Budi menjelaskan sistem SPMB saat ini sudah jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Seluruh proses penerimaan berlangsung berdasarkan hasil seleksi dalam aplikasi sehingga sekolah tidak memiliki kewenangan menambah kuota di luar ketentuan.
“Mulai tahun lalu sudah secara aplikasi itu jelas. Nanti kalau ada yang mengundurkan diri ya cadangan bagi kami itu. Itu bagus,” ujarnya.
Ia menambahkan seluruh jalur penerimaan di SMAN 1 Semarang tahun ini juga terpenuhi sesuai kuota sehingga hampir tidak ada celah untuk praktik penyusupan.
“Mutasi terpenuhi, prestasi terpenuhi semua. Jadi hampir yang potensial ya hampir enggak ada karena terpenuhi semua,” kata Budi.
“Alhamdulillah nanti aman. Lancar sistemnya juga, aplikasinya lancar,” tandas Budi.
Pihak SMAN 3 Semarang Juga Akui Terima Telepon “Minta Tolong” dari Pejabat, Tanya “Jalur Lain” SPMB
Pengakuan serupa datang dari Wakil Kepala Kesiswaan SMAN 3 Semarang, Achmad Fauzan. Ia menyebut masih ada sejumlah orang yang menghubungi sekolah untuk meminta bantuan agar anaknya bisa diterima.
Namun, Fauzan menegaskan pihak sekolah tidak bisa mengakomodasi permintaan tersebut karena seluruh proses seleksi berlangsung berdasarkan sistem.
“Sama [dengan SMAN 1 Semarang], kalau di kami tidak ada [yang menitip]. Karena kan sekarang by system, namun yang telepon itu banyak. Tapi kan karena sekarang by system jadi kami juga enggak bisa,” ujar Fauzan saat beritajateng.tv jumpai di ruang guru SMAN 3 Semarang.
Ia mengatakan, sebagian penelepon mengaku memiliki hubungan dengan pejabat maupun menjadi pejabat itu sendiri, dan berharap memperoleh jalur khusus di luar mekanisme yang tersedia.
BACA JUGA: Banyak SD Negeri Semarang Kekurangan Murid, Disdik Perpanjangan SPMB Gelombang Lanjutan
“Iya, betul. Ngaku-ngaku dan minta tolong [bertanya], ‘Ada jalur yang lain enggak ya?’ Ya jalurnya hanya empat itu kan,” kata Fauzan
Meski menerima berbagai permintaan bantuan, Fauzan memastikan tidak ada praktik titipan dalam pelaksanaan SPMB di SMAN 3 Semarang.
Dengan sistem seleksi yang seluruhnya berbasis aplikasi, baik SMAN 1 maupun SMAN 3 Semarang memastikan peluang masuk sekolah tidak lagi ditentukan oleh kedekatan dengan pejabat ataupun rekomendasi pihak tertentu, melainkan murni berdasarkan hasil seleksi sesuai jalur yang dipilih calon murid.
“Iya, enggak ada, enggak ada [titip menitip],” pungkas Fauzan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





