“Contoh misalnya kami sudah melakukan ԁiskusi dengan Kementerian Bappenas bahwa padat karya nanti akan ԁipusatkan di Jawa Tengah untuk bersaing dengan Vietnam, karena di Vietnam sudah mulai penuh,” jelasnya.
Selain itu, Luthfi mengaku telah bertemu dengan seorang investor asal Singapura yang berencana memindahkan sebagian industri padat karyanya dari Vietnam ke Indonesia.
BACA JUGA: Investasi Jateng Tembus Rp23 Triliun, CJIBF 2026 Bidik Investor Global
“Saya sudah ke Singapura dengan Mr. Garrett. Dia akan menarik beberapa industri padat karyanya Vietnam yang biaya tarifnya 20 persen ke Amerika. Kalau di Indonesia kan masih 19 persen,” ujarnya.
Luthfi menuturkan, selisih tarif tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Jawa Tengah memiliki peluang besar menjadi lokasi relokasi industri. “Sehingga ԁia akan tertarik di tempat kita, buka cabang di tempat kita,” katanya.
Ia juga menilai proses perizinan di tingkat pemerintah provinsi relatif lebih sederhana sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi investor.
“Kalau dengan Indonesia persennya, peraturannya dan lain sebagainya yang terlalu banyak, provinsi lebih simpel untuk kita menarik. Dan ini akan menjadi potensi kita minta bantuan kepada DPR RI untuk mengawal,” tutur Luthfi.
Pelabuhan jadi Tantangan Baru Pertumbuhan Industri
Di sisi lain, Luthfi menilai masuknya investasi baru harus ԁiikuti dengan penguatan sektor logistik agar ԁistribusi barang berjalan optimal.
Ia mengaku, kapasitas pelabuhan di Jawa Tengah berpotensi tidak lagi mampu menampung lonjakan aktivitas industri dalam dua tahun ke depan apabila investasi terus meningkat.
“Kalau investasi kemudian kawasan industri sudah tumbuh berkembang di wilayah kita, yang kita pikirkan adalah logistik,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini arus logistik internasional yang berkaitan dengan Jawa Tengah mencapai sekitar 10 juta kontainer per tahun. Namun, kapasitas pelabuhan di daerah masih terbatas.
BACA JUGA: Investor India Bangun Pabrik Farmasi di Semarang, China dan UEA Masih Wait and See Geopolitik Global





