“Logistik kita itu hampir internasional satu tahun itu sekitar 10 juta. Tujuh juta itu dari Jawa Tengah. Apalagi nanti kalau industri kita sudah berkembang, dua tahun yang akan datang pelabuhan kita tidak akan mampu,” ujarnya.
Oleh karena itu, Pemprov Jawa Tengah mengusulkan pengembangan kawasan pelabuhan di sejumlah wilayah seperti Kendal, Batang, Rembang, hingga Cilacap.
Selain pelabuhan laut, pemerintah juga menyiapkan konsep dry port atau pelabuhan darat untuk mendukung ԁistribusi logistik.
“Kalau itu tidak mampu kita menggunakan dry port. Dry port itu di wilayah Kendal juga ada. Kemudian di wilayah Batang kita siapkan 56 hektare,” kata Luthfi.
Ia berharap ke depan ԁistribusi kontainer ekspor dari Jawa Tengah tidak lagi bergantung pada pelabuhan di Jakarta maupun Surabaya.
Investasi Triwulan I Capai Rp23 Triliun
Luthfi optimistis peluang relokasi industri akan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan tren positif.
Ia menargetkan seluruh arus kontainer dari kawasan industri di Jawa Tengah nantinya dapat ԁilayani melalui pelabuhan di provinsi sendiri.
“Harapannya ya 100 persen dari tempat kita. Jangan sampai larinya ke Jawa Timur maupun ke Jakarta,” ujarnya.
Menurut Luthfi, hingga triwulan I 2026 realisasi investasi di Jawa Tengah telah mencapai sekitar Rp23 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 92 ribu orang.
“Dari triwulan I saja, investasi kita sudah Rp23 triliun. Serapan tenaga kerja 92.000 dan pertumbuhan ekonomi kita 5,89 persen, di atas nasional untuk Jawa Tengah,” ungkapnya.
Sementara sepanjang 2025, nilai investasi yang masuk ke Jawa Tengah mencapai sekitar Rp110 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 274 ribu orang.





