SEMARANG, beritajateng.tv – Pakar Ilmu Lingkungan Soegijapranata Catholic University (SCU), Hotmauli Sidabalok, mengatakam, potensi penergi matahari sebagai sumber listrik lebih minim dampak daripada geothermal atau panas bumi.
Energi matahari yang tersedia di Indonesia, kata dia, begitu melimpah dan dapat untuk sumber energi listrik. Termasuk dengan adanya teknologi baterai untuk menyimpan listrik.
“Saya pikir kalau kita belum siap, janganlah (pakai geothermal. Energi matahari kita punya banyak, kok. Misalnya sekarang musimnya 6 bulan hujan, 6 bulan panas matahari. Ini kan bisa simpan dengan baterai. Dan ini minim dampak daripada geothermal,” kata dia belum lama ini, di Kota Semarang.
Setiap rumah warga, kata Uli, sesungguhnya menyimpan potensi energi surya yang besar. Hal ini lantaran atapnya bisa berguna untuk pemasangan panel surya.
BACA JUGA: Rencana Pemerintah Ngebor 19 Titik Geothermal di Jawa Tengah Terungkap
Uli menilai pemanfaatan panel surya tersebut sebenarnya dapat berkembang lebih luas. Khususnya di Pulau Jawa.
“Kita semua kan di rumah punya genteng. Kalau kita ukur nih, katakan di Jawa saja. Jawa itu berapa? Lebih 1.000 kilometer, ya? Nah, itu sudah menghasilkan berapa megawatt untuk listrik?,” ucapnya.
Izin PLTS Rumit
Akan tetapi, kata Uli, mengurus perizinan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk rumah maupun swasta bukan perkara mudah di Indonesia.
Dia mencontohkan, berdasar pengalaman pribadinya yang pernah ingin memasang PLTS. Uli mengaku masih menghadapi sejumlah kendala. Utamanya dalam proses perizinan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
“Pemerintah itu masih sangat enggan. Setengah hati gitu memberikan izin, misalnya saya punya panel surya sendiri. Wah, itu ribet banget, saya harus minta izin ke PLN, harus on grid. Enggak boleh off grid, gitu kan,” katanya.
BACA JUGA: Soroti Proyek Geothermal, Pakar Lingkungan SCU Beberkan Dampak Lingkungan di Permukiman Padat Penduduk
Uli bilang, masyarakat yang ingin memasang panel surya juga harus mengikuti skema yang berlaku dalam sistem PLN. Salah satunya ketika listrik yang hasil panel surya melebihi kebutuhan.
Dia bilang, kelebihan listrik tersebut harus masuk ke PLN melalui mekanisme yang memengaruhi tagihan listrik pemilik PLTS.
“Jadi, kalau kelebihan listrik, saya harus jual ke PLN lewat pemotongan bill saya. Oke, saya ikuti. Tapi izinnya saja keluarnya susah banget,” katanya.
Mobil Listrik Malah Dapat Subsidi
Selain persoalan izin PLTS yang tidak mudah, Uli turut menyoroti belum adanya subsidi untuk mendorong masyarakat memasang panel surya secara mandiri.
Dia ustru heran, saat pemerintah justru memberikan subsidi pada kendaraan listrik, dengan jargon ramah lingkungan.
“Tidak ada subsidi, yang dapat subsidi mobil listrik. Iya, kan? Sekitar Rp70 juta sampai Rp100 juta. Itu kan yang dapat subsidi malah orang kaya. Bukan untuk masyarakat umum yang mau pasang panel surya,” ucap Uli.
BACA JUGA: Tolak Proyek Geothermal Gunung Ungaran, Aliansi Masyarakat; Alternatif Energi Ramah Lingkungan Masih Banyak
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan dukungan terhadap pemanfaatan energi surya di Indonesia yang masih belum maksimal.
“Itu [pemerintah] masih setengah hati menurut saya. Kenapa? Salah satunya, energi itu masih dimonopoli oleh PLN,” tutur Uli.
Uli Bantah Geothermal Itu Energi Terbarukan
Menanggapi kampanye geothermal sebagai energi terbarukan, Uli sepakat bahwa Indonesia memang harus beralih dari energi fosil ke energi terbarukan.
Akan tetapi, dia menekankan bahwa energi pengganti wajib meminimalkan dampak kerusakan lingkungan.
“Sebetulnya kalau kita lihat satu per satu, energi terbarukan itu kan harusnya memang dia menggantikan. Menggantikan energi yang selama ini kita dapat dari fosil, kemudian batu bara, gitu ya. Biar enggak merusak lagi, ganti itu,” tuturnya.
Oleh sebab itu, Uli mendorong pemerintah untuk lebih fokus pada energi terbarukan yang minim dampak, seperti energi surya.
“Maka menurut saya, carilah energi terbarukan itu yang minim dampak. Itu tadi yang saya bilang, misalnya seperti matahari,” katanya.
BACA JUGA: Soroti Proyek Geothermal, Pakar Lingkungan SCU Beberkan Dampak Lingkungan di Permukiman Padat Penduduk
Selain matahari, Uli juga menyinggung potensi energi angin. Meski intensitasnya tidak merata, ia menilai sumber energi ini tetap layak untuk dikaji.
“Karena angin, menurut para ahli, kekuatannya itu enggak sama. Jadi di beberapa tempat itu kekuatannya enggak sama. Tapi menurut saya, kalau diteliti, ya mungkin saja, gitu,” ujarnya.
Di sisi lain, Uli memahami alasan di balik kuatnya dorongan proyek geotermal saat ini. Hal tersebut tidak lepas dari tingginya ketergantungan pada batu bara dan besarnya cadangan panas bumi yang dimiliki Indonesia.
“Karena dia bisa menggantikan fosil, fuel yang dari minyak bumi sama batu bara. Kan listrik kita hampir 80% masih dari batu bara listrik kita. Jadi ya, ini kan menyebabkan pencemaran terus, eksploitasi bumi. Maka kemudian mereka harapkan pakai geotermal, karena kita Indonesia memang nomor dua setelah Amerika. Sumber daya panas buminya tertinggi, gitu,” tandas Uli. (*)
Editor: Diaz A Abidin





