“Sehingga apa? Banyak kejadian, mohon maaf, money politic di mana-mana. Yang tadinya Rp50 ribu menjadi Rp100 ribu, yang Rp100 ribu jadi Rp150 ribu, yang Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu. Betul, enggak?” katanya.
Pilar Politik Nahdliyin, PKB Jaga Fondasi NKRI
Dalam hematnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemenangan politik tak bisa semata-mata bertumpu pada kekuatan uang maupun strategi elektoral. Ia menegaskan, PKB lahir dari rahim politik Nahdliyin yang selama ini menjadi salah satu penyangga utama bangsa.
Oleh sebab itu, tutur Sarif, menjaga PKB bukan hanya soal menjaga partai politik, tetapi juga menjaga fondasi kebangsaan.
“PKB adalah pilar dari politik Nahdliyin dan politik Nahdliyin adalah pilar berdirinya NKRI. Selama PKB ada, maka NKRI akan terus berdiri,” tegasnya.
Sarif yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah itu menekankan bahwa kader PKB tak boleh cuma berbicara soal kemenangan politik maupun kekuasaan semata.
BACA JUGA: Peta Kandidat Ketua DPC PKB Kabupaten Semarang Mengerucut, Nama Wabup Hj Nur Arifah Masuk Bursa
Menurutnya, kader PKB harus membawa semangat peradaban yang lahir dari perjuangan para ulama dan pesantren.
“Boleh yang lain bicara kemenangan, boleh yang lain bicara kekuasaan, tapi kader PKB bicara apa? Bicara peradaban, bahwa bangsa ini lahir dari nenek moyang kita, bangsa ini lahir dari kiai-kiai kita. Maka kita jaga bersama-sama dengan ikhtiar kita dan pengabdian kita di Partai Kebangkitan Bangsa,” sambungnya.
Ia meminta kader PKB Jawa Tengah yang hadir dalam Muspimwil itu tidak boleh minder menghadapi partai lain meski tidak memiliki kekuatan logistik besar.
“Kalau ada kader PKB walaupun enggak punya duit kok ora pede ngadepi partai liyo, itu namanya pengecut. Enggak usah takut,” tegas Sarif.





