SEMARANG, beritajateng.tv – Partai Anjing akronim dari ‘Antek-antek Bajingan’ resmi dideklarasikan di Kota Semarang, Senin, 29 Juni 2026.
Deklarasi tersebut sebagai bentuk satire politik untuk menyuarakan kritik terhadap maraknya praktik korupsi dan kondisi tata kelola pemerintahan yang memprihatinkan.
Inisiator Partai Anjing, Eko Haryanto, menegaskan bahwa nama maupun konsep yang ia usung bukan bermaksud sebagai dukungan terhadap korupsi. Melainkan bentuk sindiran terhadap praktik politik yang sarat penyimpangan.
“Hari ini saya mendeklarasikan Partai Anjing yang selama ini masih bersifat fiktif menjadi sebuah gerakan nyata. Seluruh konsep yang kami bawa merupakan bentuk sarkasme terhadap praktik korupsi dan kondisi politik yang kami nilai semakin memprihatinkan,” kata Eko.
Ia menjelaskan, istilah “Anjing” merupakan akronim dari “Antek-antek Bajingan”. Menurutnya, pemilihan nama dan logo anjing sengaja dilakukan sebagai simbol kritik terhadap perilaku para pelaku korupsi yang dinilai rakus dan terus menggerogoti uang negara.
“Nama ini adalah bentuk satire. Kami ingin mempermalukan para koruptor melalui simbol-simbol yang provokatif agar masyarakat lebih mudah menangkap pesan yang ingin kami sampaikan,” ujarnya.
BACA JUGA: Ribut-Ribut Partai Gajah di Semarang, Pengamat: PSI Tak Bakal Laku di Daerah dengan Pemilih Kritis
Dalam deklarasinya, Eko juga memaparkan konsep partai yang secara sengaja menggambarkan organisasi politik yang menghalalkan korupsi, merekrut kader tidak berintegritas, hingga mengutamakan kepentingan pribadi. Namun, ia menegaskan seluruh konsep tersebut merupakan representasi satir atau parodi.
“Kalau di baca utuh, konsep itu justru merupakan kebalikan dari nilai yang kami perjuangkan. Antitesanya adalah politik yang bersih, transparan, akuntabel, dan berpihak kepada rakyat,” jelasnya.
Menurut Eko, selama ini gerakan antikorupsi identik dengan aksi demonstrasi maupun kampanye konvensional.
Melalui Partai Anjing, ia mencoba menghadirkan bentuk kritik yang berbeda agar isu pemberantasan korupsi kembali mendapat perhatian publik.
“Kami ingin melakukan gerakan antikorupsi dengan cara yang lebih progresif dan berbeda. Tujuannya bukan mempromosikan korupsi, tetapi melecehkan dan mempermalukan para koruptor melalui parodi,” katanya.




