Pelaku Wisata dan Seni ‘Menjerit’ Terdampak Pemberlakuan PPKM Darurat

Semarang, 16/7 (Beritajateng.Tv) – Pelaku industri seni dan wisata menjerit imbas pemberlakuan restriksi aktivitas rakyat (Ppkm) darurat. Pasalnya, selama PPKM darurat, aktivitas seni budaya ditiadakan.  Destinasi wisata pun ditutup.

Seorang pemilik studio rekaman, Antok mengaku terlampau terdampak implikasi PPKM darurat. Sebelum penerapan PPKM darurat, diakuinya, studio rekamannya mulai bangkit. Kini, usahanya lagi terpuruk. Apalagi, telah berlimpah para pelaku bisnis studio rekaman menjual alat-alatnya.
“Telah berlimpah yang jual alat. Kita menurun drastis. Saya harap pekerja seni terap diberi ruang untuk berkarya. Terkecuali bukan, dapat mati perlahan,” ungkap Antok.

Adanya isu perpanjangan PPKM darurat juga membuatnya sedikit geram. Dia berharap, tersedia kelonggaran bagi pekerja seni. Menurutnya, pekerja seni sanggup konsisten beraktivitas di sedang pandemi. Bahkan, pelaku seni udah mengantongi sertifikasi CHSE yang diinstruksikan pemerintah.
“Kemarin sebelum PPKM darurat, kami telah terapkan Chse, tetep disesuaikan prokes. Imbauan-Imbauan telah kita pasang dan tempel di studio,” sebutnya.

Terkecuali pekerja seni masih belum diberi ruang untuk lagi berkreasi, lanjut dia, akan segudang pengaruh yang timbul. Misalnya saja dia selaku pemilik studio rekaman. Selama ini, dia kudu terus merogoh kocek untuk membayar karyawan dan perawatan alat-alat. Di sisi lain, bukan tersedia pemasukan mirip sekali.

“Seniman kemungkinan masih bisa royalti berasal dari digital sistem, tetapi kru atau studio rekaman layaknya saya bukan tersedia penghasilan terkecuali seniman atau band-band bukan tersedia job,” ucapnya.

Tak sekedar sektor seni, industri wisata juga mengalami hal sama.
Direktur Semarang Zoo, Khoirul Awaludin mengatakan, manajemen mesti memutar otak sehingga operasional dapat konsisten terpenuh. Lebih-lebih, Semarang Zoo punya ratusan hewam yang mesti terus diberi makan tiap-tiap hari.

Tinggalkan Balasan