Ia menyebut populasi ternak sapi dan kambing di Jawa Tengah mencapai 5,2 juta ekor yang perlu diantisipasi kesehatannya.
“Sampai 5,2 juta ternak yang harus kita antisipasi kesehatannya. Ini perlu lebih ada peningkatan lagi dukungan untuk operasional mobilitas,” tegas dia.
Menurutnya, sapi dan kambing menjadi fokus utama karena tergolong rentan terhadap berbagai penyakit.
“Sapi dan kambing terutama yang biasanya rentan sekali untuk penyakit-penyakit itu,” kata dia.
Antisipasi Rabies dari Barat hingga Antraks dan PMK dari Timur
Terkait potensi penyakit, Dinas Pertanian dan Peternakan telah memetakan risiko berdasarkan arah masuknya ancaman.
“Untuk penyakit-penyakit itu kita sudah petakan. Yang kemungkinan masuk dari arah barat itu biasanya rabies dan sebagainya. Tapi yang masuk dari arah timur itu biasanya antraks, PMK dan sebagainya. Ini sudah terpetakan,” jelas Tavares.
Tavares menegaskan, tim di lapangan telah menyiapkan peralatan dan kebutuhan medis sesuai peta risiko tersebut.
“Apa yang harus dibawa, disiapkan untuk mengantisipasi ini, kawan-kawan sudah siap,” ujar dia.
Tavares menambahkan, sistem kerja tim Healing mengadopsi prinsip penanganan cepat di titik temuan agar penyakit tidak meluas.
“Namanya healing kan berarti kesembuhan. Kita keliling untuk mencari. Kalau ada gejala langsung ditangani. Di pertanian ada istilah ‘spot stop’. Jadi ketika ada spot langsung di – stop. Nah ini sama juga di peternakan,” katanya.
BACA JUGA: Banjir Masih Rendam Sebagian Pantura Hingga Kini, Pemprov Jateng Andalkan Rekayasa Cuaca BNPB
Menurutnya, langkah cepat di lokasi menjadi kunci agar penyakit tidak berkembang dan mengganggu populasi ternak serta suplai ekonomi masyarakat.
“Kalau seperti itu maka tidak akan berkembang lebih luas yang mempengaruhi populasi ternak untuk suplai kesejahteraan,” pungkas Tavares. (*)
Editor: Farah Nazila





