SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program “Healing” atau Kesehatan Hewan Keliling untuk mengantisipasi penyebaran penyakit pada jutaan ternak di wilayahnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan program tersebut menjadi langkah jemput bola agar petugas tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat.
“Hari ini kita me-launching namanya kegiatan healing atau kesehatan hewan keliling. Ini sebetulnya adalah sebuah semangat baru,
Artinya kita tidak menunggu tapi kita langsung reaksi cepat menjemput, mencari adanya potensi-potensi gejala dan sebagainya yang kemungkinan muncul sehingga kita langsung bisa penetrasi,” ujar Tavares saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Kamis, 12 Februari 2026.
BACA JUGA: Marak Bencana-Perubahan Iklim, Pemprov Jateng Optimistis Swasembada Pangan Tercapai di 2026
Ia menjelaskan, tim Healing akan berkeliling membawa peralatan kesehatan hewan dan langsung melakukan penanganan di lokasi jika ada penemuan gejala penyakit.
“Teman-teman Healing ini berkeliling langsung membawa juga alat-alat kesehatan. Ketika ada masalah langsung ada penanganan,” jelasnya.
Selain pelayanan kesehatan hewan, tim tersebut juga membawa bantuan hijauan pakan ternak. Pada hari peluncuran, mobil Healing langsung bergerak menuju Kabupaten Pati yang terdampak bencana.
“Hari ini mereka menuju ke Pati. Karena memang di sana ada kejadian bencana sehingga salah satu korban dari bencana itu adalah hewan peliharaan masyarakat. Otomatis itu memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Mereka juga kekurangan bahan pakan, maka kita memberikan bahan pakan ternak juga,” katanya.
Satu Mobil untuk 5,2 Juta Ternak Sapi dan Kambing
Tavares mengungkap, saat ini Distanak baru memiliki satu unit mobil Healing. Namun ke depan, jumlah armada akan ditambah menyesuaikan luas wilayah Jawa Tengah dan besarnya populasi ternak.
“Hari ini mobil Healing kita baru satu, tapi nanti akan kita tambah lagi sesuai dengan luasan Jawa Tengah dan juga luas pelayanan kita yang luar biasa,” ujarnya.
Ia menyebut populasi ternak sapi dan kambing di Jawa Tengah mencapai 5,2 juta ekor yang perlu diantisipasi kesehatannya.
“Sampai 5,2 juta ternak yang harus kita antisipasi kesehatannya. Ini perlu lebih ada peningkatan lagi dukungan untuk operasional mobilitas,” tegas dia.
Menurutnya, sapi dan kambing menjadi fokus utama karena tergolong rentan terhadap berbagai penyakit.
“Sapi dan kambing terutama yang biasanya rentan sekali untuk penyakit-penyakit itu,” kata dia.
Antisipasi Rabies dari Barat hingga Antraks dan PMK dari Timur
Terkait potensi penyakit, Dinas Pertanian dan Peternakan telah memetakan risiko berdasarkan arah masuknya ancaman.
“Untuk penyakit-penyakit itu kita sudah petakan. Yang kemungkinan masuk dari arah barat itu biasanya rabies dan sebagainya. Tapi yang masuk dari arah timur itu biasanya antraks, PMK dan sebagainya. Ini sudah terpetakan,” jelas Tavares.
Tavares menegaskan, tim di lapangan telah menyiapkan peralatan dan kebutuhan medis sesuai peta risiko tersebut.
“Apa yang harus dibawa, disiapkan untuk mengantisipasi ini, kawan-kawan sudah siap,” ujar dia.
Tavares menambahkan, sistem kerja tim Healing mengadopsi prinsip penanganan cepat di titik temuan agar penyakit tidak meluas.
“Namanya healing kan berarti kesembuhan. Kita keliling untuk mencari. Kalau ada gejala langsung ditangani. Di pertanian ada istilah ‘spot stop’. Jadi ketika ada spot langsung di – stop. Nah ini sama juga di peternakan,” katanya.
BACA JUGA: Banjir Masih Rendam Sebagian Pantura Hingga Kini, Pemprov Jateng Andalkan Rekayasa Cuaca BNPB
Menurutnya, langkah cepat di lokasi menjadi kunci agar penyakit tidak berkembang dan mengganggu populasi ternak serta suplai ekonomi masyarakat.
“Kalau seperti itu maka tidak akan berkembang lebih luas yang mempengaruhi populasi ternak untuk suplai kesejahteraan,” pungkas Tavares. (*)
Editor: Farah Nazila





