SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan program swasembada pangan, khususnya beras dan jagung, masih aman meski sejumlah daerah terdampak bencana alam dan perubahan iklim.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan saat ini pihaknya fokus melakukan identifikasi calon petani dan calon lokasi kegiatan swasembada pangan untuk tahun 2026.
“Saat ini kami cek ke lapangan. Lokasi-lokasi yang ditentukan, calon lokasi dan juga calon petani itu harus benar-benar sesuai dengan target kita, yaitu daerah yang produktivitasnya masih di bawah rata-rata provinsi,” ujar Tavares saat beritajateng.tv temui di Kota Semarang, Senin, 9 Februari 2026.
Menurutnya, identifikasi tersebut menjadi kunci untuk meningkatkan produksi secara lebih terukur dan tepat sasaran.
BACA JUGA: Dukung Swasembada Pangan dan MBG, Pemerintah Bakal Bangun 100 Kampung Nelayan di Jawa Tengah
“Posisi sekarang teman-teman kami turun ke lapangan untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan calon petani serta calon lokasi untuk semua kegiatan tahun 2026,” katanya.
Terkait temuan di lapangan, Tavares menyebut penurunan produktivitas di sejumlah wilayah tidak lepas dari faktor iklim, utamanya peningkatan suhu hingga persoalan teknis pengukuran.
“Bisa jadi karena peningkatan suhu yang menyebabkan penurunan produktivitas. Bisa juga karena pengukuran kita harus lebih presisi. Lokasi pengukuran dengan lokasi kegiatan itu harus benar-benar bersinergi dan bersambung,” jelasnya.
Optimistis Swasembada Pangan, Anggap Bencana Alam Berdampak Kecil pada Sektor Pertanian
Tavares menegaskan, bencana alam memang berpengaruh terhadap sektor pertanian, namun dampaknya masih relatif kecil secara agregat.
Ia mencontohkan, pada 2024 lalu luas lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen mencapai sekitar 73 ribu hektare. Namun, angka tersebut merupakan akumulasi dari berbagai faktor, mulai dari banjir, kekeringan, hingga hama penyakit.





