Pengelola Desa Wisata Diminta Bersiap Sambut Pemudik

Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto dan Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening dalam Sosialisasi Non Perda "Desa Wisata Sebagai Pengungkit Ekonomi Masyarakat". (wahyu/beritajateng.tv)

SEMARANG, 15/4 (beritajateng.tv) – Pandemi yang melandai dan masa mudik Lebaran diharapkan menjadi momentum kebangkitan desa wisata. Pariwisata selama ini menjadi sektor yang paling terpukul dampak pandemi. Saat masa transisi menuju endemi Covid-19, desa wisata diharapkan menjadi salah satu motor kebangkitan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Non Perda “Desa Wisata Sebagai Pengungkit Ekonomi Masyarakat” yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Rabu (13/4/2022).

Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto yang hadir secara daring mengatakan, pariwisata sangat bergantung dengan mobilitas masyarakat dari satu daerah ke daerah lain, sementara pandemi mengharuskan pergerakan manusia dibatasi. Maka tak heran, desa wisata ikut terdampak pandemi. Kini saat kasus Covid-19 melandai, desa wisata diharapkan dapat berpromosi lagi menarik wisatawan.

“Terlebih mendekati Lebaran dan pemerintah mengizinkan mudik. Mudik dan berwisata merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Pengelola desa wisata harus bisa menangkap potensi ini,” katanya.

Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening mengungkapkan, menjelang endemi, desa wisata perlu melakukan persiapan untuk menyambut pengunjung. Di Kabupaten Semarang sendiri ada 70 desa wisata, terdiri dari 1 desa wisata kategori berkembang, yaitu di Desa Lerep, dan 69 desa wisata kategori rintisan. Hal ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi untuk mengembangkan desanya menjadi desa wisata.

Bondan mengatakan, kreativitas menjadi kunci pengembangan desa wisata agar terus ramai dikunjungi wisatawan.

“Pasalnya ada desa wisata yang satu dua bulan ramai, di bulan ketiga mulai sepi, kemudian mati. Membangun desa wisata butuh pertimbangan cermat, tak hanya membuat gazebo dan menyuguhkan kuliner tradisional. Perlu ada nilai lebih yang ditawarkan,” ujarnya dalam acara yang dipandu moderator Ricky Fitriyanto tersebut.

Agar desa wisata tetap berkembang, lanjutnya, dibutuhkan peran Dinas Pariwisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. Desa wisata juga perlu terus berpromosi di media sosial.

“Tidak hanya upload saja, konten kreatornya juga harus ada,” paparnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang Heru Subroto mengatakan, pengembangan desa wisata membutuhkan partisipasi masyarakat mulai perencanaan, implementasi, hingga evaluasi. Prinsip pengembangan desa wisata diantaranya harus layak secara ekonomi, bersasaran lingkungan, serta dapat diterima secara sosial.

Desa wisata juga perlu memiliki atribut penting daya tarik wisata. Yaitu keunikan/langka, asli/otentik, indah, dan keragaman.

Dia menambahkan, tak hanya desa wisata yang memiliki keindahan alam yang mampu berkembang. Dia mencontohkan Desa Lerep di Kabupaten Semarang yang tak memiliki daya tarik khusus. Desa Lerep hanya memiliki embung buatan. Namun karena cara mengemasnya pintar, desa ini ramai dikunjungi wisatawan.

“Wisatawan yang berkunjung ke Desa Lerep bisa kulineran, disuguhi atraksi budaya, ada juga wisata kumpul kebo, bukan berarti kumpul dengan pasangan tidak sah, tapi pengunjung diajak turun ke sawah bersama kerbau, menggarap sawah dan menanam padi,” ujarnya.

Menurut dia, desa wisata bisa menjadi sarana promosi produk lokal, menekan urbanisasi, membantu UMKM, membangkitkan pembangunan infrastruktur desa, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.