Hukum & Kriminal

Penipuan Lewat Tinder Bermarkas di Solo Raya Turut Dibongkar FBI, Raup Rp41 Miliar dari Warga Amerika

×

Penipuan Lewat Tinder Bermarkas di Solo Raya Turut Dibongkar FBI, Raup Rp41 Miliar dari Warga Amerika

Sebarkan artikel ini
kasus penipuan sindikat pig butchering
Ungkap kasus penipuan sindikat ‘pig butchering’ yang berlangsung di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 1 Juni 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Polda Jawa Tengah menggandeng Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat untuk membongkar sindikat penipuan online internasional bermodus pig butchering yang beroperasi dari Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kelompok tersebut menyasar ribuan warga Amerika Serikat melalui aplikasi kencan seperti Tinder dan Bumble sebelum membujuk korban berinvestasi pada platform kripto palsu.

Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih, mengungkap sindikat tersebut berhasil meraup keuntungan hingga 2.327.625 dolar Amerika Serikat atau setara Rp41,1 miliar.

“Dalam kasus ini, pelaku menargetkan warga negara Amerika Serikat. Sehingga di dalam proses penyidikan, kami bekerja sama dengan FBI, dan tentunya dalam koordinasi Divhubinter Polri maupun Bareskrim Polri,” ujar Himawan dalam konferensi pers di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Senin, 1 Juni 2026 sore.

Berdasarkan hasil penyidikan, kelompok tersebut menggunakan nama PT Digi Global Consultant sebagai kedok kegiatan operasional mereka. Selain berfungsi sebagai tempat kerja, perusahaan itu juga menjadi kantor untuk menjalankan penipuan secara terorganisasi.

“Berdasarkan data transaksi yang ditemukan sejak Juli Tahun 2025 hingga Mei 2026, kelompok tersebut memperoleh keuntungan sebesar 2.327.625 USD atau setara dengan Rp41.100.000.000 dari para korban,” kata Himawan.

BACA JUGA: Bukan Main, Akhirnya Terungkap Daftar Nama Orang Indonesia di Dalam Dokumen Epstein

Penyidik mencatat kelompok tersebut menargetkan sekitar 5.000 warga Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 133 warga negara asing telah menjadi korban investasi palsu yang mereka jalankan.

Sasar Lima Ribu Warga Amerika Lewat Tinder, Bumble, dan Facebook

Himawan menjelaskan sindikat tersebut menggunakan modus pig butchering, yakni penipuan online yang mengandalkan manipulasi hubungan emosional sebelum pelaku meminta korban menanamkan uang pada investasi palsu.

“Penipuan online ini dengan cara membangun hubungan emosional secara intensif terhadap korban melalui media sosial, aplikasi dating apps seperti Tinder, Bumble maupun platform komunikasi digital seperti Facebook,” ujarnya.

Operasi kelompok tersebut berlangsung secara terstruktur. Para pelaku terlebih dahulu mencari target melalui aplikasi kencan dan media sosial.

Himawan menuturkan, ada asisten marketing yang secara khusus bertugas menyaring calon korban. Mereka melakukan swipe akun di Tinder maupun Bumble, lalu memulai percakapan apabila target merespons.

“Bila korban membalas, maka lanjut dengan chatting, menanyakan alamat, dan membalas percakapan semenarik mungkin agar target tertarik untuk memindahkan percakapan melalui aplikasi WhatsApp,” kata Himawan.

Setelah korban mulai percaya, asisten marketing menyerahkan kontak tersebut kepada marketing yang bertugas membangun hubungan lebih dalam dan mengarahkan korban untuk berinvestasi.

Mereka kemudian mengarahkan korban untuk mengakses situs trading palsu bernama tradingcryptoconvert.net melalui tautan lifetradingcrypto.com yang sistemnya telah pelaku manipulasi.

“Korban yang mulai terpikat kemudian pelaku arahkan melakukan transfer investasi melalui website tradingcryptoconvert.net dengan link www.lifetradingcrypto.com yang telah termanipulasi sistemnya, sehingga seluruh dana korban masuk ke jaringan pelaku,” jelasnya.

Menurut Himawan, para pelaku menjanjikan keuntungan besar dari investasi kripto maupun trading digital. Namun setelah korban menyetor dana secara bertahap dan dalam jumlah besar, uang tersebut justru masuk ke jaringan pelaku dan tidak dapat korban tarik kembali.

Pelaku Pria Menyamar jadi Wanita, Siapkan Model Asli untuk Video Call dengan Korban

Salah satu fakta yang terungkap dalam penyidikan ialah sebagian besar marketing ternyata menggunakan identitas perempuan palsu untuk mendekati korban.

Himawan menyebut banyak pelaku berjenis kelamin laki-laki, namun memperkenalkan diri sebagai perempuan ketika berkomunikasi dengan target warga Amerika Serikat.

“Marketing itu tugasnya dia berpura-pura menjadi wanita. Sasarannya adalah target warga negara Amerika. Jadi marketing itu bisa laki-laki bisa perempuan, tapi kalau kita lihat di foto tersangka ini lebih banyak laki-laki,” ujarnya.

BACA JUGA: Tak Segan Tembak Begal dan Kreak yang Ancam Nyawa, Polda Jateng Juga Buru Penjual Sajam Online

Untuk memperkuat penyamaran tersebut, para pelaku memasang foto perempuan lain sebagai gambar profil akun mereka. Foto yang mereka gunakan merupakan model asli yang memang sindikat tersebut rekrut.

“Dia memperkenalkan diri sebagai wanita dan foto yang pelaku pakai adalah foto model. Dan foto itu adalah model asli yang mereka pekerjakan,” kata Himawan.

Tak hanya menggunakan foto, kelompok ini juga menyiapkan seorang model perempuan berinisial F yang bertugas melakukan video call langsung dengan korban.

Model tersebut berperan memperkuat kepercayaan korban ketika hubungan mulai berkembang dan target mulai mempertanyakan identitas pelaku.

“Model ini tugasnya adalah melayani video call secara live sesuai dengan skenario yang dikehendaki,” ujarnya.

Menurut pengakuan para tersangka, mereka sengaja menyasar warga Amerika Serikat. Hal tersebut karena mereka khawatir masyarakat Indonesia mengenali wajah model yang pelaku gunakan dalam operasi penipuan tersebut.

Terlebih, model berinisial F tersebut merupakan mantan selebriti terkenal di Indonesia.

“Kalau penipuan ini ditujukan dengan sasaran warga Indonesia, pasti warga Indonesia itu akan kenal dengan wajah model tersebut. Sehingga sasarannya dipastikan adalah warga negara asing, dalam hal ini warga negara Amerika,” tutur Himawan.

Polisi Tangkap 39 Tersangka, Libatkan WNI hingga WNA Nepal dan Myanmar

Dari hasil pengembangan, Ditresiber Polda Jawa Tengah mengamankan total 39 tersangka yang terdiri atas 28 warga negara Indonesia dan 11 warga negara asing.

“Total tersangka semuanya sampai saat ini ada 39 orang. Yang mana terdiri dari 28 tersangka WNI dan 11 tersangka WNA,” kata Himawan.

Sebanyak 11 tersangka WNA tersebut terdiri atas tujuh warga negara Nepal dan empat warga negara Myanmar.

Menurut Himawan, seluruh WNA yang petugas amankan berperan sebagai marketing. Selain itu terdapat sejumlah tersangka lain yang berperan sebagai asisten marketing, leader, model, hingga penyedia tempat dan sarana operasional.

Penyidik juga menemukan tersangka berinisial ASC yang berperan menyediakan basecamp, fasilitas, serta berbagai perlengkapan yang digunakan sindikat dalam menjalankan aksinya.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi mengidentifikasi tujuh tempat kejadian perkara (TKP). Terdiri atas satu kantor PT Digi Global Consultant dan enam rumah kos yang para pelaku bekerja secara daring gunakan.

Dari lokasi tersebut, penyidik menyita berbagai barang bukti. Mulai dari papan nama perusahaan, dokumen operasional, buku panduan marketing, tangkapan layar situs kripto, hingga perangkat elektronik yang pelaku gunakan untuk menjalankan penipuan.

BACA JUGA: Polda Jateng soal Pelecehan Santriwati di Pekalongan: Lokasi Kejadian di Padepokan, Bukan Ponpes

Barang bukti yang petugas amankan antara lain 140 unit telepon genggam, 123 unit komputer PC, dua laptop, 78 monitor, 54 keyboard, empat televisi, hingga meja rias yang model gunakan saat melakukan video call dengan korban.

“Bahwa setiap member marketing dibekali perangkat komunikasi berupa HP yang diisi oleh leader untuk melakukan operasi target pig butchering,” ujar Himawan.

Ia menjelaskan setiap marketing umumnya menggunakan satu telepon genggam untuk satu korban. Setelah komunikasi dengan korban selesai, perangkat tersebut pelaku matikan dan beralih menggunakan perangkat lain untuk mencari target berikutnya.

“Jadi prinsipnya satu korban itu satu handphone. Mereka tidak akan menggunakan satu handphone untuk beberapa korban,” katanya.

Himawan menegaskan penyidikan belum berhenti pada 39 tersangka yang telah polisi amankan. Polda Jawa Tengah masih mengembangkan perkara tersebut bersama sejumlah lembaga dalam dan luar negeri.

Selain FBI dan Interpol, penyidik juga menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Hal itu untuk menelusuri aliran dana serta aset kripto yang sindikat tersebut gunakan.

BACA JUGA: Modus Kencan Berujung Investasi Palsu, Sindikat di Solo-Sukoharjo Tipu Ribuan Warga Amerika

Polda Jawa Tengah juga bekerja sama dengan Imigrasi untuk mendalami keterlibatan warga negara asing dalam jaringan penipuan internasional itu.

“Terkait dengan pengembangan perkara yang melibatkan tersangka WNA dan korban WNA Amerika, maka Ditressiber Polda Jawa Tengah akan bekerja sama dengan FBI melalui Set NCB Interpol Divhubinter Polri,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp