Jateng

Penuh Nilai Sejarah, Stigma Mistis Keris Tak Lagi Berlaku

×

Penuh Nilai Sejarah, Stigma Mistis Keris Tak Lagi Berlaku

Sebarkan artikel ini
pameran keris di semarang
Jatmiko saat menunjukkan koleksi keris atau tosan aji yang memiliki nilai historis tinggi. (Foto: Fadia/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Upaya untuk mengatasi persepsi bahwa keris adalah benda yang klenik dan mistis menjadi fokus utama dalam peningkatan pemahaman budaya di kalangan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan oleh Adwi Sujatmiko, seorang kolektor sekaligus pecinta keris di Kota Semarang.

Jatmiko atau yang akrab dipanggil Demang Banyu memang akrab dengan keris, atau yang ia sebut tosan aji sejak kecil. Keris pertamanya ia dapat dari warisan sang kakek. Tidak heran jika sejak kecil ia sudah memahami budaya tersebut.

Namun, meski ada beberapa anggapan terkait makhluk halus terkait tosan aji, Jatmiko mengaku sang kakeknya tidak pernah memberikan peringatan semacam itu. Menurutnya, keris lebih terkait dengan budaya dan filosofi Jawa.

BACA JUGA:Mengenal Keris Untuk Generasi Muda Melalui Pameran Tosan Aji Semarang

“Masih banyak yang menganggap tosan aji itu klenik, musyrik, dan mistis. Inilah yang harus kita luruskan, kita perlu memberikan wawasan kepada mereka yang masih menganggap tosan aji sebagai sesuatu yang mistis dan klenik,” ungkap Jatmiko kepada beritajateng.tv di Gedung Monod Diephuis dalam acara Pameran Tosan Aji, Rabu (23/08/ 2023).

Selain itu ia mengenalkan istilah jamasan, yaitu proses membersihkan karat dan kotoran pada keris. Jatmiko menekankan bahwa pada dasarnya itu hanyalah proses pembersihan untuk menjaga kondisi tosan aji yang terbuat dari besi.

Sementara itu, terkait dengan ritual sesajen yang kerap kali bersamaan dengan proses jamasan, Jatmiko menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari budaya dan tradisi. Ini merupakan bentuk sedekah bumi atau permohonan kepada Tuhan dengan menggunakan cara adat Jawa.

“Kalau kita logika ya, jamasan itu pembersihan aja. Terkait ritual sesajen itu juga terkait budaya dan tradisi. Sesajen itu kan sedekah bumi, itu minta sama Tuhan hanya saja dengan cara adat jawa,” lanjutnya.

Keris Miliki Nilai Artistik dan Penuh Sejarah

Sebagai seorang pecinta benda tradisional tersebut, Jatmiko lantas mengungkapkan bahwa apa yang membuatnya tertarik adalah keindahan pada keris. Ia menganggapnya seperti gambar, pamor, hingga sandangannya. Baginya, tosan aji bukan hanya benda mati, tetapi sesuatu yang memiliki nilai artistik dan sejarah yang luar biasa.

“Keris itu memiliki nilai seni, ada gambar dan pamornya, dan faktanya negara lain tidak memiliki hal serupa,” tegasnya.

BACA JUGA:Rekomendasi Wisata Terbaik di Sekitar Gunung Prau, Cocok Buat Healing!

Bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang dan Komunitas Pecinta Tosan Aji Semarang (Peta Semar), Jatmiko menegaskan prioritas utama mereka. Yakni, memberikan pemahaman yang benar mengenai keris dan tosan aji kepada generasi muda. Ia berharap agar anak-anak muda di Semarang dapat lebih memahami arti dari keris serta merasa bangga dengan warisan budaya tersebut.

“Cita-cita kita itu yang utama harus mengedukasi yang baik untuk anak muda di Semarang. Agar mereka tau senjata tradisional itu apa, tosan aji itu apa, nggak ada hal-hal mistis atau klenik lagi. Ayo kita nguri-uri budaya,” pungkasnya.(*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp