Penyebab Banjir di Wahyu Utomo Diduga Akibat Aktivitas Proyek di Kawasan Industri

Banjir di Perumahan Wahyu Utomo, Ngaliyan, Kota Semarang. /Foto: Ellya.

SEMARANG, 9/11 (BeritaJateng.tv) – Rabu (9/11/2022) siang, warga Perumahan Wahyu Utomo, Tambakaji Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, masih melakukan pembersihan sisa material banjir. Peristiwa banjir yang melalap wilayah Wahyu Utomo itu terjadi pada Minggu (6/11) petang.

Sebanyak 75 keluarga lebih terdampak kejadian tersebut, enam mobil dan belasan sepeda motor juga terseret arus banjir. Tiga rumah di RT 7 RW 6 Perumahan Wahyu Utomo rusak berat diterjang air bah.

Pasca banjir bandang, lumpur dan sampah memenuhi fasilitas umum di Perumahan Wahyu Utomo

Di tengah kesibukan membersihkan sisa material banjir, beberapa warga menuding aktivitas proyek di Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin menjadi penyebab terjadinya banjir.

“Warga sudah mengecek, ternyata ada jembatan semi permanen di sekitar kawasan industri yang tak jauh dari Wahyu Utomo yang menjadi penyebab banjir,” kata Agus Hariyono Ketua RW 6 Kelurahan Tambakaji Ngaliyan.

Menurutnya, jembatan semi permanen itu hanya berupa gorong-gorong dan digunakan untuk aktivitas proyek.

Gorong-gorong yang ada di bawah jembatan yang melintasi DAS Beringin juga berukuran kecil.

Hal itu diterangkan Agus membuat sungai menyempit dan saat debit air tinggi, arus sungai tak bisa lancar mengalir.

“Jembatan dan gorong-gorong itu juga jebol karena banjir, lantaran aliran air DAS Beringin tertahan di sana. Akhirnya limpasan mengarah ke pemukiman di Perumahan Wahyu Utomo,” paparnya.

Keluhan warga Perumahan Wahyu Utomo itu ditanggapi Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman. Kadarlusman yang akrab disapa Pilus itu mengaku geram dan meminta Pemkot Semarang melakukan penindakan.

Bahkan Pilus berujar, langkah tegas wajib dilakukan jika alih fungsi yang dilakukan kontraktor terbukti menjadi penyebab banjir.

Menurutnya hal itu perlu dilakukan agar masyarakat tidak kembali menjadi korban dan pihak yang dirugikan.

“Pendataan juga harus dilakukan, baik bangunan hingga pemanfaatan lahan di DAS Beringin, jika ada yang tidak mematuhi aturan kami sarankan langsung berikan peringatan keras,” tegasnya.

Dugaan penyebab banjir karena aktivitas proyek di Kawasan Industri Candi diterangkan Pilus harus didalami.

Aturan 40 persen lahan terbuka hijau dalam pembangunan kawasan hingga sistem drainase di wilayah tersebut dikatakanya juga harus dievaluasi ulang.

Ia menerangkan normalisasi DAS Beringin bakal dilakukan, namun hal itu bukan kunci pencegah bencana banjir jika pengawasan ketat tidak dilakukan.

“Melihat kejadian tersebut dan duguan yang ada, Distaru Kota Semarang segera melakukan pendataan kawasan, terutama yang tidak mematuhi Perda setelah itu dilakukan penertiban,” imbuhnya.

Adapun Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali, mengatakan, Sekda Kota Semarang telah menginstruksikan mengenai pendataan dan evaluasi kawasan yang dilanda banjir.

Pendataan yang dilakukan baru mengakomodir mengenai infrastruktur yang rusak hingga dampak bencana banjir di wilayah Ngaliyan.

“Data akan digunakan untuk alokasi bantuan kepada korban banjir dan pembangunan infrastruktur yang rusak,” tambahnya. (Ak/El)

Leave a Reply