Untuk berbuka puasa, panitia menyiapkan lontong Cap Go Meh sebagai menu utama, mempertemukan tradisi Tionghoa dan suasana Ramadan dalam satu meja kebersamaan.
Menu yang tersaji pun sarat simbol. Ada beberapa hidangan kesukaan Gus Dur selalu hadir dalam setiap persembahyangan, seperti kikil dari Jombang dan mendoan.
“Kikil dari Jombang, terus ada kopi dan mendoan. Itu pasti kita sediakan kalau ada sembahyang di situ,” ujarnya.
Menariknya, perayaan 150 tahun ini juga ada buka puasa bersama yang berbagai kalangan lintas agama hadiri. Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menyebut pemaknaan perayaan kali ini secara spiritual sekaligus budaya.
“Kami kan slogan untuk 150 tahun ini keberagaman, kesetaraan, dan kemanusiaan, ya sudah itu aja. Ini buka puasa bersama, komplit lah. Mau maknai spiritual, mau maknai budaya ya monggo. Tapi ini loh, bahkan kelompok macam-macam [latar belakang] yang saya suka, banyak yang datang,” kata Harjanto.
Haul Gus Dur dan Makna Sinci di Altar Leluhur
Keberadaan Sinci (papan nama arwah) Gus Dur di altar leluhur memiliki makna mendalam. Bagi Boen Hian Tong, itu bukan sekadar penanda wafatnya seorang tokoh, melainkan simbol keberanian dan keteladanan.
Perkumpulan ini mengaku mengambil banyak pelajaran dari keberanian Gus Dur dalam memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas. Sosok yang tersohor sebagai Bapak Tionghoa Indonesia itu menjadi inspirasi agar nilai-nilai kesetaraan dan kemanusiaan terus terawat lintas generasi.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi!” menjadi semangat yang terus bergaung dalam perayaan tersebut.
Boen Hian Tong menunjukkan bahwa warisan budaya dan nilai kemanusiaan dapat berjalan bersama sebagaimana teladan Gus Dur yang terus hidup dalam semangat lintas iman dan kebangsaan. Perayaan tahun ini harapannya menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




