SEMARANG, beritajateng.tv – Perayaan 150 tahun Perkumpulan Boen Hian Tong pada Selasa, 3 Maret 2026 tak sekadar menjadi momentum Cap Go Meh. Di usia satu setengah abad, perkumpulan tertua di Semarang itu memadukan perayaan budaya Tionghoa dengan Haul Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam satu panggung kebersamaan lintas agama dan lintas latar belakang.
Tepat pada 3 Maret 2026 atau tanggal 15 bulan pertama tahun 2577 Kongzili, Boen Hian Tong genap berusia 150 tahun. Tanggal tersebut juga selalu diperingati bersamaan dengan Cap Go Meh, yang bagi masyarakat Tionghoa dirayakan pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
Secara historis, Cap Go Meh bukan sekadar perayaan penutup Imlek. Dalam sistem penanggalan lunisolar, kalender Imlek membantu para petani menentukan waktu tanam, panen, dan penyimpanan hasil bumi demi menjaga ketahanan pangan sepanjang tahun.
BACA JUGA: Peletakan Sinci Ketiga di Boen Hian Tong, Simbol Duka dan Seruan Anti Kekerasan kepada Anak
Bagi Boen Hian Tong, Cap Go Meh juga menjadi penanda resmi berdirinya perkumpulan. Meski dalam catatan Liem Thian Joe di buku Riwajat Semarang termaktub Boen Hian Tong telah terbentuk jauh sebelumnya, pengurus saat itu menetapkan usia organisasi berdasarkan publikasi resmi pemerintah yang terbit pada Februari 1876 di media massa nasional maupun lokal.
Sejak itu, perayaan ulang tahun Boen Hian Tong selalu dirangkaikan dengan Cap Go Meh. Tahun ini, usia 150 tahun menjadi tonggak bersejarah yang dirayakan dengan berbagai kegiatan untuk memperkuat hubungan multikultural di Indonesia.
Ketua Panitia 150 Tahun Perkumpulan Rasa Dharma Semarang, Agung Kurniawan, menegaskan tema besar perayaan tahun ini adalah Multikultural, Kesetaraan, dan Kemanusiaan.
“Meneladani sikap Gus Dur itu tertuang dalam tema 150 tahun Perkumpulan Rasa Darma, multikultural, kesetaraan, dan kemanusiaan. Sosok Gus Dur kan lekat banget dengan tiga itu,” ujar Agung di sela-sela kegiatan.





