SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pendidikan Kota Semarang menunda dua paket pekerjaan tahun anggaran 2206 yang mencakup perbaikan tiga sekolah karena khawatir proyek tidak selesai sesuai batas waktu kontrak.
Dua paket tersebut mencakup perbaikan sekolah di SDN Karanganyar Gunung 02 serta satu paket gabungan untuk SDN Gajahmungkur 01 dan SDN Manyaran 03 Semarang.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan mengatakan, pada tahun anggaran 2026 terdapat 31 paket pekerjaan lelang di jenjang TK, SD, dan SMP. Dari jumlah tersebut, 29 paket telah mendapatkan penyedia dan sudah berkontrak untuk pengerjaan.
Sementara dua paket pekerjaan lainnya masih dalam proses di Pengadaan Barang dan jasa ULP Lelang Pemkot Semarang.
BACA JUGA: Desil DTSEN Menentukan Bansos, Jika Data Tak Sesuai Warga Bisa Usulkan Perubahan Desil
“(Yang di tunda) itu pekerjaan lelang di SDN Karanganyar Gunung 02. Satu paket lagi di SDN Gajahmungkur 01 dan SDN Manyaran 03,” kata Ahsan, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut dia, Dinas Pendidikan sebenarnya telah memasukkan pekerjaan tersebut dalam rencana pembangunan tahun anggaran 2026. Namun, proses pengadaan yang belum selesai membuat waktu pelaksanaan semakin terbatas.
Dari total 31 paket lelang pekerjaan untuk jenjang TK, SD, dan SMP pada 2026, sebanyak 29 paket sudah mendapatkan penyedia dan masuk tahap kontrak.
Sementara dua paket lainnya masih berada dalam proses pengadaan melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Kota Semarang.
Jika proses lelang berlanjut, lanjut Ahsan, penyedia perkiraannya baru bisa ditetapkan pada pertengahan hingga akhir September. Dengan kondisi itu, pekerjaan fisik paling cepat mulai pada Oktober.
Masalahnya, kontrak pekerjaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 90 hari kerja.
“Sehingga praktis berkontrak dan mulai melaksanakan pekerjaan kan di bulan Oktober. Nah, kalau 90 hari kerja kira-kira itu tidak cukup waktunya,” ujar Ahsan.
Dinas Pendidikan akhirnya memilih menahan pekerjaan tersebut daripada memaksakan proyek berjalan dengan waktu yang tidak realistis.
Risiko Putus Kontrak Jadi Pertimbangan
Ahsan mengatakan keputusan menunda proyek bukan berarti pemerintah mengabaikan kondisi tiga sekolah tersebut.
Justru, Dinas Pendidikan ingin menghindari persoalan baru apabila pekerjaan dipaksakan masuk kontrak ketika waktu pengerjaan sudah terlalu mepet.
“Untuk antisipasi ini dua pekerjaan lelang ini terpaksa ini kami tangguhkan terlebih dahulu. Karena kita antisipasi kalau nanti itu harus putus kontrak di tengah jalan kan malah risiko,” tuturnya.
Pilihan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi soal ada atau tidaknya anggaran perbaikan. Tantangannya adalah memastikan pekerjaan bisa dilaksanakan secara penuh dan di pertanggungjawabkan sesuai ketentuan.
Namun, penundaan juga berarti sekolah yang membutuhkan perbaikan harus menunggu lebih lama.
Ahsan memastikan kondisi bangunan tetap menjadi dasar penentuan prioritas. Sekolah dengan kerusakan sedang hingga berat tetap akan masuk daftar perbaikan.
“Semua yang mengalami rusak sedang, rusak berat menjadi prioritas kami. Untuk sekolah-sekolah yang gedungnya rusak nanti kami bisa anggarkan untuk anggaran perubahan 2026 atau di anggaran murni 2027,” ujarnya.
Tunggu Anggaran Perubahan atau 2027
Dinas Pendidikan kini menyiapkan alternatif agar kebutuhan perbaikan tidak hilang dari perencanaan. Dua opsi yang Dinas siapkan adalah memasukkannya dalam APBD Perubahan 2026 atau menganggarkannya kembali pada APBD murni 2027.
Di saat yang sama, Dinas Pendidikan juga berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait program revitalisasi sekolah.
Skema pembiayaan nantinya dapat melalui kombinasi anggaran pemerintah pusat dan APBD Kota Semarang.
Langkah ini menjadi penting karena kerusakan bangunan sekolah tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Apalagi kerusakan berat dapat berpengaruh langsung terhadap keamanan siswa dan guru.
Mayoritas Perbaikan Atap hingga Plafon
Ahsan menjelaskan kerusakan berat pada bangunan sekolah antara lain terlihat dari kondisi atap yang rapuh, plafon yang ambrol, hingga pintu dan kusen yang sudah tidak layak.
Sementara kerusakan sedang dapat berupa kondisi plafon yang tidak baik serta sebagian pintu dan jendela yang mulai rapuh.
Dari 29 paket yang telah mendapatkan penyedia, proyek pekerjaan mayoritas berkaitan dengan atap dan plafon, selain kusen, pintu, serta jendela.
“Kebanyakan adalah atap. Ya, itu atap, plafon, sama kusen, pintu, dan jendela,” kata Ahsan. (*)





