SEMARANG, beritajateng.tv – Pergantian Tahun Baru 2026 di kawasan Simpang Lima Semarang tetap dipadati ribuan warga, meski tanpa pesta kembang api besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari kerumunan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru kota hingga luar daerah untuk merayakan malam tahun baru di ikon ibu kota Jawa Tengah tersebut.
Pantauan di lapangan, suasana Simpang Lima sejak malam hari dipenuhi keluarga, anak muda, hingga komunitas yang menggelar tikar di area lapangan. Meski tak ada pertunjukan kembang api resmi berskala besar, suara letupan kembang api kecil dari pengunjung tetap terdengar silih berganti, menciptakan atmosfer perayaan yang khas dan meriah secara swadaya.
Antok, warga Kecamatan Genuk, mengaku rutin datang ke Simpang Lima setiap malam pergantian tahun bersama keluarganya. Namun, ia menilai perayaan tahun ini terasa kurang meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
BACA JUGA: Pergantian Tahun di Semarang, Doa Lintas Agama, Donasi Bencana hingga Dangdut Koplo
“Setiap tahun ke Simpang Lima sama keluarga. Tahun ini kurang meriah karena hiburannya cuma terpusat di sini saja. Banyak yang kecewa karena biasanya hotel-hotel ada kembang api besar,” ujar Antok kepada beritajateng.tv sembari mencari jalan keluar dari kerumunan.
Menurutnya, Simpang Lima masih menjadi pusat hiburan warga Kota Semarang saat malam tahun baru. Karena itu, ia berharap ke depan ada kembali pertunjukan kembang api resmi agar perayaan terasa lebih semarak.
“Harapannya tahun depan bisa ada kembang api lagi. Ini pasti banyak yang kecewa, karena hiburan masyarakat Kota Semarang kan pusatnya di sini. Semua penjuru ke sini. Tiap tahun ke sini memang pengin lihat kembang api, tapi malah enggak ada,” lanjutnya.
Alih-alih Pesta Kembang Api, Warga Pilih Nonton Konser di Simpang Lima Semarang
Sementara itu, Rova, warga asal Wonosobo yang kini tinggal di Kecamatan Banyumanik, datang ke Simpang Lima bersama teman-temannya untuk menikmati konser musik. Ia mengaku datang khusus untuk menyaksikan penampilan Niken Salindri yang diketahui dari media sosial.
“Ke sini karena ngefans sama Niken Salindri. Kalau kembang api sih enggak terlalu, soalnya itu sudah biasa. Yang penting bisa nonton konser,” kata Rova.
Rova menyebut ini menjadi pengalaman pertama merayakan tahun baru di Semarang. Ia berangkat dari Banyumanik sekitar pukul 19.00 WIB dan mengaku perjalanan relatif lancar.
“Ini tahun baru pertama di Semarang. Tahun kemarin di Jepara, biasanya di hotel. Kalau di sini nonton konser outdoor kayak gini asyik. Mudah-mudahan tahun depan bisa tambah lagi, misalnya Niken sama NDX AKA,” harapnya.
BACA JUGA: Malam Pergantian Tahun Baru 2026 di Semarang Perkiraan Hujan, BMKG Imbau Warga Waspada
Absennya pesta kembang api tahun ini sebelumnya telah Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng sampaikan. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk empati dan solidaritas kemanusiaan terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam.
Sebagai gantinya, Pemkot Semarang mengarahkan perayaan akhir tahun dengan kegiatan doa lintas agama serta penggalangan donasi untuk korban bencana banjir di wilayah Aceh dan Sumatra.
“Untuk kembang api dari pemerintah kota, saya kira tidak. Biasanya memang ada di Simpang Lima, tetapi kemarin saya menyarankan kepada panitia agar tidak perlu kembang api,” ujar Agustina. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





