Perjalanan mudik kali ini juga terasa lebih menantang karena ia membawa anak yang belum genao berusia 2 tahun, yakni 23 bulan. Selama di pesawat, sang anak sempat rewel karena perubahan tekanan udara.
“Di pesawat sempat rewel, mungkin karena telinganya sakit. Tapi ya kasih susu, akhirnya tenang,” tuturnya.
Pulang Kampung dari Kaltim ke Pemalang Nyaris Satu Hari
Jika ditotal, perjalanan dari Sangatta hingga tiba di Pemalang diperkirakan memakan waktu hampir satu hari penuh.
“Kalau hitung-hitung hampir 24 jam di jalan. Berangkat tadi malam habis maghrib, sampai rumah [Pemalang] nanti kemungkinan habis asar, ya mendekati asar lah,” katanya.
Meski melelahkan, pengalaman mudik ini sudah bukan yang pertama bagi Cintiyah. Ia mengaku sudah tiga kali melakukan perjalanan serupa sejak tinggal di Kalimantan Timur mengikuti suaminya bekerja.
Namun, panjangnya perjalanan tetap menjadi tantangan tersendiri. “Kalau sudah di Sangatta, rasanya enggak pengin pulang. Tapi kalau sudah di Jawa, enggak pengin balik ke sana. Soalnya capek di perjalanan,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik semua kelelahan dan kendala, kerinduan akan kampung halaman tetap menjadi alasan utama. “Yang dikangenin itu kumpul keluarga, kuliner, sama suasana Pemalang, jalan-jalan ke alun-alun,” ucapnya.
Kisah Cintiyah menjadi potret nyata perjuangan pemudik jarak jauh yang harus menghadapi berbagai kendala teknis di perjalanan. Mulai dari keterbatasan tiket, waktu yang mepet, hingga faktor kelelahan fisik, semua ia lalui demi satu tujuan pulang ke kampung halaman.
BACA JUGA: Cegah Penumpukan di KM 429A, Polres Semarang Arahkan Pemudik ke Rest Area KM 439A
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang mencatat lonjakan signifikan jumlah penumpang pada puncak arus mudik Lebaran 2026. Pada Rabu, 18 Maret 2026 sebanyak 56.718 penumpang menggunakan moda transportasi kereta api di wilayah ini.





