SEMARANG, beritajateng.tv – Perjalanan mudik tak selalu mulus. Bagi Cintiyah Dewi (26), perjalanan pulang kampung dari Sangatta, Kalimantan Timur, ke Pemalang, Jawa Tengah, tahun ini menjadi pengalaman penuh drama. Mulai dari perjalanan hampir 24 jam, anak balita yang rewel di pesawat, hingga tiket kereta yang hangus karena keterlambatan bagasi.
Ditemui di Stasiun Tawang Semarang, Cintiyah tampak beristirahat sembari menunggu anaknya yang masih balita bermain. Ia bercerita, perjalanan mudiknya sudah mulai sejak malam hari dari rumahnya di Sangatta.
“Dari rumah habis isya sekitar jam 19.30, sampai bandara itu jam 04.30 subuh. Jauh banget,” ujarnya saat beritajateng.tv jumpai di Stasiun Tawang pada Rabu, 18 Maret 2026.
Perjalanan panjang itu belum termasuk penerbangan menuju Semarang selama 1 jam 45 menit. Setibanya di Bandara Ahmad Yani, ia dan keluarga masih harus melanjutkan perjalanan darat menuju stasiun untuk naik kereta ke Pemalang.
Namun, di titik inilah masalah muncul. Cintiyah mengaku sebenarnya sudah memesan tiket kereta jauh-jauh hari. Sayangnya, tiket tersebut hangus karena ia terlambat tiba di Stasiun Poncol akibat proses pengambilan bagasi yang memakan waktu.
BACA JUGA: Haru Perjalanan Pulang ke Kampung Halaman, Ratusan Warga Ikut Mudik Gratis Pegadaian
“Keretanya jam 08.44, dari bandara itu sekitar jam 08.05. Tapi bagasinya lama, hampir satu jam, enggak satu jam sih ya 20 menit. Jadi telat,” katanya.
Akibatnya, tiket kereta yang sudah dibeli seharga sekitar Rp90 ribu per orang pun hangus. Di Stasiun Poncol ternyata tiket kereta api menuju Pemalang habis. Akhirnya ia harus membeli tiket baru dengan harga lebih mahal di Stasiun Tawang.
“Hangus sekitar Rp180 ribu buat dua orang. Terus beli lagi, dapatnya Rp160 ribu per orang,” jelasnya.
Meski harus merogoh kocek lebih dalam, Cintiyah memilih tetap melanjutkan perjalanan. Baginya, yang terpenting adalah bisa sampai kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga saat Lebaran.





