Catatan Editor

Perkara Galat Bahasa, ‘Kita’ yang Kerap Kali Disalahartikan ‘Kami’

×

Perkara Galat Bahasa, ‘Kita’ yang Kerap Kali Disalahartikan ‘Kami’

Sebarkan artikel ini
Di Buku | Gambar AI | Frankenstein | Semarang Tertinggal | Kita Kami | 2024 PPDB | Sato Reang
Mu'ammar Qadafi. (Foto: Dok. Pribadi)

Sebetulnya, yang membuatnya makin runyam ialah semakin galibnya penggunaan “kita” yang keliru ini dalam masyarakat umum. Coba hitung seberapa banyak varian ucapan “Hello, guys, hari ini kita bla-bla-bla …”. Di internet, kalimat tersebut seolah menjadi template, walau penggunaannya terkadang masih kurang tepat.

Seorang food vlogger akan berkata, “Hello, guys, hari ini kita akan mencicipi seblak bulu-babi ekstra pedas, lho!” Ditambah, saat hendak mengudap penganan tersebut, ia bakal berujar, “Mari kita coba!”

Faktanya, ia memakan seblak bulu-babi ekstra pedas—memang ada?—itu seorang diri, sedangkan para pemirsanya hanya domblong di hadapan layar gawai masing-masing, boleh jadi sembari sesekali mengelus perutnya yang keroncongan. Sebagian besar pemirsa tak termasuk dalam “kita” tersebut, sebab belum tentu di hadapannya ada kudapan yang sama dengan yang si food vlogger makan.

Lain soal jika sang food vlogger membawa serta kawannya untuk turut menikmati hidangan seblak itu. Namun, jika ia tetap melontarkan kata “kita” ke hadapan pemirsa alih-alih kawannya sendiri, maka hal itu tetaplah keliru. Sebab, lagi-lagi pemirsa tak ikutan makan. Duh!

BACA JUGA: Kalimat Basa-basi Menjadi Budaya Berbahasa di Indonesia

Mengapa orang suka bilang “kita”?

Kekeliruan semacam itulah yang lambat laun membuat makna kata ganti “kita” seolah bergeser menjadi “kami”, atau bahkan “saya”. Ada beberapa dugaan mengapa orang-orang lebih memilih mengucap “kita” ketimbang “kami”, salah satunya “agar tak terdengar formal”. Dugaan lain, mereka seakan ingin mengajak orang yang ia tuturi “kita” untuk menjadi bagian dari pihaknya, bagian dari penikmat seblak bulu-babi ekstra pedas.

Sayangnya, kata ganti “kita” tak berfungsi layaknya pronomina “us” atau “our” atau “we” dalam bahasa Inggris. Sebab, ketiga pronomina itu bisa berarti “kita” maupun “kami”, tergantung konteks. Sementara dalam bahasa Indonesia, “kita” dan “kami” betul-betul berdiri sendiri-sendiri, tak bisa saling menggantikan.