SEMARANG, beritajateng.tv – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Jateng Media Summit 2026 yang diprakarsai Suara.com dan beritajateng.tv.
Jateng Media Summit 2026 mengusung tema “Optimalisasi Konten dan Website untuk Menjangkau Targeting Audiens”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu-Kamis, 20-21 Mei 2026 di KHAS Hotel Semarang.
Dukungan itu Luthfi sampaikan dalam audiensi di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu, 20 Mei 2026 pagi. Audiensi tersebut menghadirkan Direktur beritajateng.tv Akhmad Nurkholis, Editor in Chief Suara.com Suwarjono, serta Head of Community Local Media Summit Asep Saefullah.
Pada hari pertama, Jateng Media Summit menggelar bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan website dan media sosial bagi pemerintah daerah. Kegiatan tersebut menyasar ASN DPRD kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang membidangi kehumasan.
Luthfi menilai penguatan media dan fungsi kehumasan di lingkungan pemerintah perlu berjalan seiring perkembangan zaman. Menurutnya, instansi pemerintah juga perlu memperkuat komunikasi publik agar informasi dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.
“Jadi ya memang saatnya untuk kita berubah, itu satu. Kemudian yang kedua untuk menyehatkan sarana yang kita punyai, nanti lewat dinas kita,” ujar Luthfi.
BACA JUGA: Kolaborasi Gerindra Jateng dengan Media, Optimalkan Pengawasan Kebijakan Publik
Ia mengatakan setiap organisasi perangkat daerah juga perlu memiliki fungsi kehumasan yang lebih aktif. Sebab, menurutnya, selama ini peran komunikasi publik di sejumlah instansi belum berjalan maksimal.
“Di tempat kita itu memang sudah saya arahkan. Jadi dinas-dinas kita itu harus mempunyai public relation sendiri-sendiri. Kita harus punya fungsi PPID. Jadi ya seluruh ASN itu mempunyai fungsi humas,” lanjutnya.
Luthfi menilai media memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan di Jawa Tengah. Menurutnya, media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, namun juga memberi masukan terhadap kebijakan maupun program pemerintah.
“Jadi nanti kegiatan ini saya dukung sekali, saya pengen di Jawa Tengah media apa pun bentuknya itu ikut hal yang positif membuat media terkait di Jawa Tengah untuk membangun,” ujar Luthfi.
Peran media juga tidak sebatas mendukung program pemerintah. Luthfi menilai media tetap perlu menjalankan fungsi kontrol dengan memberikan kritik maupun masukan terhadap hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
“Dan tentu tidak cuma hanya membangun mengkoreksi kalau itu enggak sehat ya kasih masukan biar kita perbaiki,” pungkas Luhtfi.
Pengelolaan Website Instansi Pemerintah di Jateng Masih Belum Optimal
Sementara itu, Direktur beritajateng.tv Akhmad Nurkholis mengatakan penyelenggaraan Jateng Media Summit berangkat dari kondisi pengelolaan website dan media sosial pada sejumlah instansi yang ia nilai masih belum optimal.
Menurut Nurkholis, rendahnya jangkauan informasi pada platform digital milik instansi menjadi salah satu alasan penyelenggaraan kegiatan Jateng Media Summit 2026, khususnya pada hari pertama.
“Sebagai contoh di DPRD Jateng sendiri kalau kita mau mengadakan rapat paripurna dengan live streaming itu yang nonton masih di bawah 10,” tutur Nurkholis.
Kondisi tersebut mendorong penyelenggara mengadakan pelatihan agar pengelolaan media digital pada instansi dapat berjalan lebih optimal.
“Nah, dari situ kami bergerak untuk menyelenggarakan pelatihan agar bisa optimal terhadap media sosial,” lanjutnya.
BACA JUGA: Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh Dorong Sinergi DPRD-Media: Kawal Pembangunan Daerah
Selain workshop, panitia juga menyiapkan sejumlah agenda pada hari kedua yang fokus pada perkembangan industri media lokal dan transformasi digital.
Kegiatan tersebut akan menghadirkan sekitar 100 media siber di Jawa Tengah. Sekitar 30 persen peserta lainnya berasal dari pengelola media sosial.
Sebagai informasi, hari kedua Jateng Media Summit 2026 membuka rangkaian acaranya melalui konferensi bertajuk ‘Peluang dan Tantangan Media Lokal di Jawa Tengah’. Forum tersebut membahas perkembangan media lokal di tengah perubahan ekosistem digital.
Setelah itu akan berlangsung panel diskusi bertajuk “Membangun Ekosistem Informasi Publik Jateng yang Sehat dan Bertanggung Jawab” serta “Inovasi Para Pengelola Media Digital di Jawa Tengah pada Aspek Bisnis”.
Selain itu, Jateng Media Summit turut menghadirkan workshop “Penggunaan AI untuk Media Lokal dan Pengelola Media Sosial”. Workshop tersebut membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam pengembangan media digital.
Suara.com Soroti Kesenjangan Media Nasional dan Lokal
Dalam audiensi tersebut, Editor in Chief Suara.com, Suwarjono, menilai media lokal saat ini menghadapi tantangan besar di tengah perubahan ekosistem digital.
Menurutnya, terdapat kesenjangan antara media nasional dan media lokal yang perlu diperkecil agar pertumbuhan keduanya dapat berjalan beriringan.
“Poinnya adalah kami ingin mendekatkan jarak. Sekarang itu ada gap soal bisnis media antara nasional dan lokal,” ujar Suwarjono.
Ia menyebut kesenjangan tersebut muncul pada sejumlah aspek, mulai dari teknologi, isu konten, model bisnis, monetisasi, hingga distribusi konten.
Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat juga mengubah cara kerja media saat ini.
“Sekarang platformnya sudah berubah. Tidak lagi seperti dulu media dicari, sekarang media malah mencari pembacanya,” lanjutnya.
Selain transformasi media, pihaknya juga menyoroti penyebaran hoaks dan informasi palsu yang semakin masif di media sosial. Menurutnya, keberlangsungan media menjadi faktor penting agar kualitas informasi tetap terjaga.
“Kalau medianya sehat, kontennya juga sehat dan berkualitas,” katanya.
Dorongan untuk Media Lokal Tumbuh Lewat Kolaborasi dan Inovasi
Di sisi lain, Head of Community Local Media Summit, Asep Saefullah, menilai media lokal saat ini menghadapi tantangan bisnis akibat perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.
Asep menuturkan, media lokal perlu memperkuat kolaborasi agar dapat berkembang bersama di tengah perubahan industri media.
“Kami ingin mereka bisa berkolaborasi sehingga teman-teman media lokal juga tumbuh bisnisnya dengan kolaborasi dan inovasi,” ujar Asep.
Ia mengatakan media lokal juga perlu memperluas model bisnis dan tidak hanya bergantung pada pola kerja sama iklan semata.
“Bukan hanya sebagai publisher, tapi ingin menjadi motor penggerak ekosistem informasi,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





