Bahkan, Zety mengungkapkan, efek Pandemi Covid-19 pada ekspor furnitur masih terasa hingga saat ini. Yang menjadi permasalahan utama paska pandemi adalah naiknya tarif shipping.
“Tahun ini bisa dibilang 50 persen penurunan ekspor dibanding sebelum Pandemi Covid-19, jadi memang sampai saat ini masih terasa efeknya,” jelasnya.
Gunakan material berkualitas tinggi
Sementara itu, Zety menjelaskan jika target utama dari pasar domestik tidak terbatas pada umur alias bersifat universal. Hal tersebut terdukung oleh adanya berbagai inovasi produk yang ada, mulai dari perabotan dapur, pajangan, hingga perabotan rumah tangga.
“Kita punya bermacam koleksi, mulai dari klasik untuk peminat usia middle up, sementara kalau untung kalangan anak muda, atau pasangan muda kami juga punya konsep minimalis, modern ala scandanivia,” jelasnya.
BACA JUGA: Big Bad Wolf Books, Pameran Buku Internasional Hadir di Queen City Mall
Sementara untuk kisaran harga juga beragam dan bisa menyesuaikan dana konsumen. Banyak produk yang dibandrol dengan harga ratusan ribu. Sedangkan produk meja dengan bahan kayu jati misalnya, Zety membandrol dengan harga Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta.
“Walau kualitas jati sekarang sudah menurun dibanding 10-20 tahun yang lalu, kita tetap tidak mengorbankan kualitas,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila