Jateng

Pertanyakan Urgensi Proyek Geotermal Gunung Ungaran, WALHI: Padahal Jateng-DIY Surplus Listrik 2.200 MW

×

Pertanyakan Urgensi Proyek Geotermal Gunung Ungaran, WALHI: Padahal Jateng-DIY Surplus Listrik 2.200 MW

Sebarkan artikel ini
Geotermal Gunung Ungaran
Uap panas bumi di kawasan Candi Gedongsongo, Bandungan, Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

Baginya, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan pemerintah dalam melihat daya dukung lingkungan sebelum melanjutkan rencana pengembangan geotermal di Gunung Ungaran.

Lebih jauh, WALHI Jateng turut menyoroti lokasi rencana proyek yang berada berdekatan dengan kawasan Candi Gedong Songo. Keberadaan cagar budaya tersebut membuat potensi dampak terhadap kawasan sekitar perlu ԁiperhatikan secara serius.

Baginya, Candi Gedong Songo tak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, namun juga menjadi bagian dari ruang hidup serta sumber penghidupan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata.

BACA JUGA: Proyek Geotermal di Gunung Ungaran, Dulu Warga Pernah Diajak PT GIS Studi Banding ke PLTP Kamojang

Ia meyakini sejumlah aktivitas dalam proyek geotermal berpotensi memberikan dampak terhadap kawasan. Mulai dari pembukaan lahan skala besar, mobilisasi alat berat, pengeboran, hingga potensi pelepasan gas seperti hidrogen sulfida (H2S) dan getaran seismik.

Tak cuma itu, tutur Nur, getaran akibat aktivitas pengeboran berisiko terhadap struktur bangunan candi yang telah berusia ratusan tahun. Ia juga menyoroti potensi gangguan terhadap tata air tanah yang menurutnya dapat memicu penurunan muka tanah atau land subsidence.

“Jika proyek ini ԁiteruskan, pemerintah tidak hanya mengorbankan ekosistem. Tetapi, juga menghancurkan warisan sejarah, budaya, dan sumber penghidupan warga setempat,” ujarnya.

Nur mengatakan, penolakan warga terhadap rencana geotermal di kawasan Gunung Lawu seharusnya menjadi pembelajaran bagi pemerintah sebelum melanjutkan proyek serupa di Gunung Ungaran.

Sebab, tutur Nur, masyarakat perlu ԁilibatkan sejak awal dan tidak hanya ԁitempatkan sebagai pihak yang menerima keputusan pemerintah.

“Pemerintah tidak bisa lagi memaksakan proyek dengan pendekatan top-down tanpa mendengarkan suara rakyat,” katanya.

BACA JUGA: Tolak Proyek Geotermal di Jenawi Karanganyar, Warga Lereng Lawu: Bisa Rusak Lingkungan, Banyak Candinya

“Jika rakyat di kawasan Gunung Ungaran merasa ruang hidup dan sumber airnya terancam, maka pemerintah wajib membatalkan proyek tersebut. Bukan malah memaksakannya demi ambisi investasi,” imbuh Nur.