SEMARANG, beritajateng.tv – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah mempertanyakan urgensi rencana pengembangan energi panas bumi atau geotermal di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang dan perbatasan Kabupaten Kendal.
Deputi Direktur WALHI Jawa Tengah, Nur Cholis, menilai penambahan pembangkit listrik berskala besar perlu ԁikaji kembali dengan melihat kondisi kelistrikan Jawa Tengah saat ini.
Berdasarkan data 2025 PLN UID Jateng-DIY, kata Nur Cholis, sistem kelistrikan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih mengalami surplus.
“Kapasitas terpasang mencapai sekitar 6.400 MW, sementara beban puncak hanya berkisar 4.200 MW. Terdapat sisa daya sekitar 2.200 MW (44,94 persen),” ujar Nur Cholis, Rabu, 2 September 2026.
Nur mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan Jawa Tengah belum memiliki urgensi untuk menambah pembangkit listrik baru berskala besar. Terlebih, lanjut Nur, rencana pengembangan geotermal Gunung Ungaran berada di kawasan bentang alam yang ԁinilai penting bagi kehidupan masyarakat.
“Kami menilai Jawa Tengah belum memiliki urgensi untuk menambah pembangkit listrik baru berskala besar, apalagi di kawasan bentang alam yang penting bagi warga. Kebijakan ini berpotensi lebih mengakomodasi kepentingan investasi daripada kebutuhan riil masyarakat,” imbuhnya.
Selain mempertanyakan urgensi proyek, WALHI Jateng menyoroti risiko ekologis dari pengembangan panas bumi, terutama terkait konsumsi air dan kelestarian mata air.
BACA JUGA: Pemprov Jateng Tegaskan Proyek Geotermal Harus Sesuai Tata Ruang, Tak Bakal Ada Izin Jika Langgar RTRW
Nur Cholis mengatakan, pengalaman pengembangan panas bumi di kawasan Dieng dapat menjadi bahan pembelajaran sebelum pemerintah mengembangkan proyek serupa di kawasan Gunung Ungaran.
Pihaknya mencontohkan kondisi warga di Dusun Pawuhan yang menurutnya mengalami kesulitan mengakses air bersih. WALHI menduga kondisi sumber air tersebut berkaitan dengan aktivitas di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).
“Di Dusun Pawuhan, warga kesulitan mengakses air bersih karena sumber airnya ԁiduga kuat terdampak dan berubah menjadi asin akibat aktivitas di sekitar PLTPB,” katanya.





