SEMARANG, beritajateng.tv – Disinformasi atau hoaks di media sosial menjelang Pemilu 2024 terancam lebih masif terjadi ketimbang tahun 2019. Berdasarkan hasil lembaga riset Binokular, pengguna aktif media sosial di Indonesia saat ini menyentuh angka 167 juta.
Project manager Binokular ID Oleg Widoyoko menyebut, jumlah fantastis pengguna media sosial di Indonesia menjadi momok yang buzzer manfaatkan di tahun politik.
“Temuan kami menjelang tahun 2024 ini tim maupun buzzer sudah mengenal algoritma dari sosial media. Yang mana mereka bisa melakukan personifikasi dan micro targeting,” ujar Oleg dalam Diskusi Bulanan AMSI, Rabu 27 September 2023.
Menurutnya, buzzer yang mampu melakukan profiling dan micro targeting ini dapat menembak pengguna media sosial secara tepat berdasarkan preferensi pengguna yang berbeda-beda.
“Misalnya ketika kita menyasar pemilih muda di Jawa Barat, ada narasi-narasi yang sudah terbuat secara khusus untuk tipe pemilih di sana,” sambungnya.
Adapun jenis hoaks yang kerap buzzer gunakan sebagai senjata antara lain kabar palsu, foto editan, penyampaian informasi keliru, hingga potongan video masing-masing Bacapres.
“Seperti event Narasi di UGM Jogja kemarin trennya bertahan tiga minggu. Tetapi tim buzzer menjadikan tren itu lebih panjang, jadi pengulangan narasi Bacapres dari event tersebut akan tetap ada sampai hari pemilihan,” ungkapnya.
Bagi Oleg, pola penyebaran seperti itu dapat mengubah persepsi masyarakat, khususnya pengguna media sosial.
Ungkap ‘bank issue’ masing-masing Bacapres, apa saja?
Ketiga Bacapres yang kini eksis, baik Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, hingga Anies Baswedan menurut Oleg punya isu yang akan terus buzzer mainkan.
“Bank issue yang akan dimainkan akan terus berulang sampai Februari nanti. Dari isu negatif ini, akan ada isu baru yang diulang dan disambung lagi di Pemilu 2024,” ungkap Oleg.
Adapun isu negatif yang kerap menerpa Bacapres asal Partai Gerindra Prabowo Subianto menurut data yang Binokular ID rilis yakni sifat arogan, alumni 212, penculik, pelanggaran HAM, orde baru, food estate, pro Amerika, hingga sosok yang tergambarkan tua dan sakit.
“Kalau Ganjar isu yang sering menimpanya itu Rembang-Wadas, anti aktivis, pro Tiongkok, petugas partai, pro penggusuran, korupsi E-KTP, pornografi, kemiskinan di Jateng, dan pencitraan,” sambungnya.
Sementara itu, lanjut Oleg, isu politik identitas menjadi yang paling melekat pada Bacapres Partai NasDem Anies Baswedan.
“Selain politik identitas, isu lain yang melekat pada Anies itu ada retorika atau talk only, pengangguran, JIS dan Formula E. Selain itu juga reklamasi, dan kegagalannya saat menjabat di Kementerian Pendidikan,” ungkap Oleg.
Berbagai isu hingga hoaks berpotensi meramaikan media sosial sampai tanggal pemilihan nanti. Oleh karenanya, Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Libus yang turut hadir dalam diskusi itu mengimbau seluruh jurnalis untuk berperan dalam memberantas hoaks.
BACA JUGA:Resmi Dikukuhkan, Tim Relawan Bakorsi Blora Siap Menangkan Anies Baswedan di Pilpres 2024
Utamanya, Uni menyebut jangan sampai sebuah media sampai menyebarkan berita yang kebenarannya tidak bisa terbuktikan.
“Begitu penting bagi seorang jurnalis itu untuk verifikasi berita. Misalnya kasus Prabowo yang mencekik Menhan, sampai saat ini saya belum percaya tetapi saya harus mengejar itu. Apalagi Hasto mengatakan tidak ada asap kalau tidak ada api,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





