SEMARANG, beritajateng.tv – Ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkampanye pada Pilgub 2018 silam, penanganan isu lingkungan seperti banjir dan banjir rob secara tuntas menjadi janji yang hingga kini belum mampu ia penuhi meski telah lengser dari kursi gubernur.
Pengamat politik asal Universitas Diponegoro, Wahid Abdulrahman khawatir janji yang tak Ganjar penuhi menjadi catatan merah jika ia terpilih menggantikan Presiden RI Joko Widodo. Hal ini ia sampaikan saat beritajateng.tv konfirmasi melalui WhatsApp, Senin, 4 September 2023.
“Ini (janji kampanye tuntaskan banjir) juga yang kemudian nanti akan diperluas di tingkat nasional. Saya kira saya melihat Jateng khususnya, salah satunya banjir Pantura,” ucapnya.
Wahid juga mengakui sosok Jawa Tengah sebagai ‘Supermarket Bencana’ tak akan lepas semudah itu. Meskipun telah terbangun infrastruktur untuk mencegah banjir, bagi Wahid itu belum sepenuhnya.
“Ternyata wilayah lain masih tinggi. Dan juga image Jateng sebagai supermarket bencana, terutama banjir, ini juga ternyata di tempat lain merambah ya. Ini PR yang belum terselesaikan,” ucap Wahid.
BACA JUGA: Kemiskinan di Jateng Belum Tuntas, Pengamat Politik Pertanyakan Jika Ganjar Pimpin Wilayah Nasional
Isu lingkungan jadi batu sandungan Ganjar untuk kampanye
Bukan Ganjar namanya jika tidak melekat dengan isu lingkungan. Mulai dari pabrik semen di Rembang hingga konflik Wadas akan selalu menjadi batu sandungan langkahnya saat berkampanye.
“Bagi teman-teman tidak hanya di Jawa Tengah, saya kira di banyak tempat, termasuk ketika saya kemarin studi di Jerman, isu lingkungan selalu menerpa Pak Ganjar. Pasti itu nanti akan menjadi salah satu isu kampanye, ini catatan bagi Pak Ganjar. Itu tidak akan terselesaikan, akan terus selamanya,” tegas Wahid.
Isu lingkungan memang berpotensi menjadi batu sandungan dan senjata ampuh yang menyerang Ganjar saat kampanye. Meskipun begitu, struktur partai pengusungnya, yakni DPD PDI Perjuangan Jateng Wahid rasa kuat untuk mendukungnya maju dalam Pilpres 2024 mendatang.
Namun, hal itu tidak menjadi jaminan kampanyenya akan berjalan mulus di kota-kota besar. Wahid menyebut DKI Jakarta, dengan masyarakat yang mobilitas dan informasinya begitu masif, sebagai tantangan besar bagi Ganjar.
“Kalau di Jawa Tengah saya kira Pak Ganjar masih cukup kuat ya, karena ada dukungan struktur partai. Tetapi kemudian di wilayah perkotaan misalnya Jakarta, kemudian kota besar yang akses informasinya itu mudah, itu pasti akan menjadi catatan selama kampanye Pak Ganjar. Ini yang kemudian harus bisa diselesaikan,” bebernya.
Anggap Ganjar populis dan minim strategi, ini catatan penting untuk kampanye
Pencitraan Ganjar di media sosial membuatnya pantas menyandang predikat sebagai seorang populis. Adapun populis dapat merujuk pada sebuah pendekatan politik yang merangkul rakyat kecil untuk meraup dukungan dan simpati. Blusukan menjadi ciri khas Ganjar yang ia pamerkan di media sosial. Wahid pun membenarkan hal ini.
“Pak Ganjar itu kan selama ini populis ya. Nah, yang strategisnya ini kemudian masih menjadi pertanyaan publik sekarang. Bahwa dia bagus berkomunikasi dengan masyarakat, aktif media sosial juga iya. Tapi bagaimana strategisnya ini?” terangnya.
Untuk berkampanye dengan lebih baik, menurut Wahid, penting bagi Ganjar untuk menampilkan strategi nyata dalam menyelesaikan masalah. Terutama isu lingkungan, yang dalam tanda kutip, masih melekat erat pada sosok Ganjar Pranowo.
“Bagaimana track record kemampuan dalam menyelesaikan masalah, kemampuan untuk merumuskan sebuah gagasan yang kemudian bisa menyelesaikan persoalan. Ini yang tanda tanya ini. Kalau populis ya okelah, tetapi dari aspek strategisnya ini mesti jadi pertimbangan. Pak Ganjar harus lebih menujukkan bagaimana gagasan-gagasan tersebut,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





