“Suka tidak suka ya harus, karena dia mengambil fasilitas dari ajaran Tuhan dalam asasnya. Harusnya mereka juga mengindahkan kepentingan dalam konteks semacam itu,” ujarnya.
Dalam konteks ini, NHS menilai arah dukungan PPP dalam berbagai kontestasi politik nasional justru menjauhkan partai dari pemilih Islam yang selama ini menjadi sandaran utamanya. Kondisi tersebut, kata dia, berkontribusi besar terhadap merosotnya suara PPP pada Pemilu 2024 lalu.
Kalah Segmentasi dari PKB dan PKS, PPP Kehilangan Basis Utamanya
Selain soal orientasi politik, NHS menilai kemunduran PPP juga dipicu oleh kekalahan dalam perebutan segmentasi pemilih Islam dibanding partai-partai sejenis, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Mantan Ketua Bawaslu RI itu menyebut kompetitor utama ialah PKB, yang kini lebih dominan menguasai ceruk pemilih Islam tradisional yang dahulu menjadi basis PPP. Ia menjelaskan, PKB memiliki segmentasi yang sangat jelas sebagai partai Islam tradisionalis.
“PKB itu jelas segmentasinya. Islam tradisionalis, perdesaan, sedikit perkotaan. Apa pun keadaannya, PKB punya segmen yang jelas dan mereka ambil dengan sangat baik,” terang NHS.
Sementara itu, PKS dinilai konsisten menggarap segmen Islam modernis dan puritan, terutama di wilayah perkotaan dan kampus. “PKS itu jelas Islam modernis yang puritan. Dia mengambil segmentasi kota dan kampus,” ujarnya.
Berbeda dengan kedua partai tersebut, PPP justru kehilangan basisnya sendiri. Segmen utama PPP, menurut NHS, telah PKB rebut sejak era Reformasi.
BACA JUGA: Songsong Pemilu 2029, PPP Kabupaten Semarang Berharap Partai Segera Konsolidasi Hingga Daerah
“Segmentasi tertentu PPP itu sudah PKB ambil. Basis Islam modernis yang dulu ada melalui Parmusi juga ditinggalkan. Tokoh-tokoh nasionalnya banyak yang hengkang,” katanya.
Dalam kesempatan itu, NHS mencontohkan gesekan historis antara basis PPP dan PKB di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti di Jepara dan Pekalongan.




