Di sisi lain, ia menilai pembangunan Kota Semarang juga perlu diarahkan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Menurut Prof Teguh, kawasan Tembalang telah menunjukkan bagaimana aktivitas pendidikan mampu menggerakkan ekonomi selama 24 jam.
Pertumbuhan serupa, kata dia, perlu di dorong di kawasan lain sesuai dengan potensi masing-masing.
“Tidak hanya Tembalang. Ada Sekaran dengan Unnes, kawasan Bendan dan sekitarnya dengan kampus Unika, kemudian Pedurungan dengan USM dan wilayah lainnya. Pemerintah harus memfasilitasi agar ekonomi tumbuh berdasarkan potensi kawasan,” katanya.
Tantangan terbesar Semarang, kata Dia, kini bukan sekadar mempertahankan nilai pelayanan publik yang sudah cukup baik. Kota ini harus berani menaikkan standar.
Semarang, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi kota yang unggul di Jawa Tengah. Kota ini harus mulai membuktikan diri mampu bersaing sebagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan publik dan kehidupan perkotaan di level yang lebih tinggi.
“Modal Semarang sudah bagus. Tinggal bagaimana keberanian untuk mengubah cara berpikir, mempercepat digitalisasi dan membuat pembangunan benar-benar terasa oleh masyarakat,” pungkasnya.
Dewan Dorong Belanja Lebih Terasa oleh Warga
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengatakan dialog bersama akademisi menjadi bagian dari upaya membuka saluran aspirasi publik sekaligus mencari masukan objektif bagi arah pembangunan kota.
Menurutnya, pembangunan tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Kolaborasi dengan DPRD, akademisi, media dan masyarakat diperlukan untuk memastikan kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
“Ini wujud kebersamaan dan kolaborasi. Kami mengajak pemerintah kota bersama akademisi memberikan masukan yang konstruktif bagi kemajuan Kota Semarang,” kata Suharsono.
Ia menilai dewan ingin mendorong pola belanja pemerintah yang lebih berbasis pada pelayanan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurutnya, masyarakat akan lebih terdorong berpartisipasi dalam pembangunan, termasuk memenuhi kewajiban. Seperti membayar pajak dan retribusi, ketika mereka melihat hasil nyata dari anggaran yang dikeluarkan pemerintah.





