“Kalau kita bicara relasi sehat, maka pertanyaannya bukan hanya umur berapa, tapi sejauh mana anak sudah diedukasi tentang relasi sehat dan tidak sehat,” katanya.
Lebih jauh, Amalia menyoroti kerentanan anak yang berkaitan dengan relasi pengasuhan yang tidak suportif dengan figur pengasuh utama.
“Yang diharapkan dari seorang anak itu adalah kasih sayang atau kelekatan emosional yang aman dengan figur pengasuhnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerentanan dapat muncul dari pola pengasuhan yang berulang kali mengabaikan kebutuhan anak.
“Ketika anak berulang kali merasa diabaikan, tidak diberikan perhatian, baik secara emosional seperti dalam komunikasi sehari-hari, secara fisik, kesehatan, maupun pendidikan,” jelasnya.
Kekerasan Emosinal atau Psikologis
Menurut Amalia, kerentanan tidak hanya muncul dari pengabaian, tetapi juga dari bentuk kekerasan.
“Kekerasan itu tidak hanya fisik, tapi juga bisa emosional atau psikologis. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi di rumah, anak berharap kebutuhannya bisa terpenuhi di luar lingkup keluarga. Saat bertemu pelaku, risikonya menjadi lebih besar,” ujarnya.
Namun, Amalia menegaskan, child grooming tidak hanya terjadi pada anak yang berasal dari keluarga dengan relasi pengasuhan yang bermasalah.
“Terlepas dari relasi keluarga yang cukup baik, paparan pelaku yang intens dan berkesinambungan juga bisa menjauhkan kedekatan antara anak dan pengasuhnya,” katanya.
Menurutnya, manipulasi yang pelaku lakukan secara terus-menerus juga dapat menggoyahkan pondasi relasi yang sebelumnya sudah terbentuk.
BACA JUGA: Broken Strings, Memoar Aurelie Moeremans yang Menguak Luka Grooming dan Trauma Masa Muda
“Ada kebingungan, ada romantisasi relasi, kecintaan terhadap pelaku, yang akhirnya membuat relasi anak dengan figur pengasuhnya menjadi renggang,” jelasnya.
Ia menyimpulkan, terdapat dua jalur utama yang meningkatkan kerentanan anak terhadap child grooming.
“Yang pertama, rentan karena relasi pengasuhan memang kurang suportif. Yang kedua, karena paparan manipulatif dari pelaku yang intens dan berlangsung lama, meskipun relasi keluarga awalnya cukup baik,” ujar Amalia.
Ia menegaskan, selain relasi pengasuhan yang aman, edukasi mengenai relasi sehat sejak dini menjadi benteng penting pencegahan child grooming.





