Jateng

Psikolog Undip Ungkap Celah Child Grooming pada Anak, Dari Perbedaan Usia hingga Figur Manipulatif

×

Psikolog Undip Ungkap Celah Child Grooming pada Anak, Dari Perbedaan Usia hingga Figur Manipulatif

Sebarkan artikel ini
Child Grooming | Marriage is Scary
Psikolog Universitas Diponegoro, Amalia Rahmandani, saat beritajateng.tv jumpai langsung di Fakultas Psikologi Undip pada Selasa, 17 September 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Ketimpangan tersebut membuat anak berada pada posisi yang tidak berdaya. “Secara usia dia masih muda, secara psikologis belum matang, dan secara relasional dia masih belajar membangun relasi yang sehat. Itu sebabnya anak menjadi rentan,” katanya.

Dalam situasi tersebut, anak kerap belum memiliki pemahaman yang utuh tentang relasi sehat.

BACA JUGA: Heboh Ibu Muda 7 Anak Bersuami Dukun Pijat, Korban Child Grooming?

“Ketika dia sedang belajar memahami relasi sehat itu seperti apa, lalu masuk figur dewasa yang manipulatif. Apalagi jika anak punya pengalaman relasi yang kurang suportif di keluarga, maka pemahaman tentang relasi bisa bergeser tanpa sadar,” ujar Amalia.

Ia menekankan, penguatan pemahaman mengenai relasi sehat menjadi salah satu kunci pencegahan child grooming. “Pemahaman mengenai relasi dan kejadian grooming ini perlu lebih kuat untuk mencegah terjadinya grooming,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai usia matang bagi anak perempuan untuk menjalin hubungan, Amalia menilai kematangan tidak bisa diukur semata dari usia.

“Kita perlu pahami dulu, matang atau tidak matang itu berproses seiring usia. Penting untuk mempertimbangkan apa karakteristik perkembangan pada tahap-tahap usia tertentu,” katanya.

Usia Proses Penguatan Kapasitas Kognitif dan Emosional

Menurutnya, baik anak-anak maupun remaja masih berada dalam proses penguatan kapasitas kognitif dan emosional.

“Bahkan remaja sekalipun itu masih dalam proses menguatkan kemampuan pemikiran dan pemahaman mengenai relasi sehat. Secara emosional pun masih labil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketertarikan terhadap lawan jenis umumnya mulai muncul saat memasuki masa pubertas, namun pemaknaan terhadap relasi sering kali belum matang.

“Pada usia yang lebih muda, relasi dengan teman sebaya cenderung lebih dominan. Ketika memasuki remaja, mulai muncul ketertarikan romantis terhadap orang lain,” jelasnya.

Amalia menegaskan, jika yang dimaksud matang adalah mampu membangun relasi yang sehat, maka edukasi menjadi faktor penting.

BACA JUGA: Aurelie Moeremans: Fakta Grooming, Karier, dan Perjalanan Hidup Bersama Mantan