Gaya Hidup

Ramai “Marriage is Scary”, Psikolog Undip Ungkap Fenomena Takut Nikah, Faktor Medsos atau Trauma?

×

Ramai “Marriage is Scary”, Psikolog Undip Ungkap Fenomena Takut Nikah, Faktor Medsos atau Trauma?

Sebarkan artikel ini
Child Grooming | Marriage is Scary
Psikolog Universitas Diponegoro, Amalia Rahmandani, saat beritajateng.tv jumpai langsung di Fakultas Psikologi Undip pada Selasa, 17 September 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Tak hanya itu, trauma yang timbul dari seseorang saat berinteraksi dengan lawan jenis pun Amalia sebut bisa memicu keengganan untuk menikah.

“Marriage is Scary” picu pergeseran usia pernikahan dari dewasa-muda ke dewasa-madya

Tren “Marriage is Scary”, menurut Amalia, bisa memicu pergeseran usia menikah. Sebelumnya, orang-orang cenderung menikah pada kelompok usia dewasa-muda.

“Dulu kalau menikah kan di usia dewasa-muda, itu usia-usia produktif usai melewati masa remaja dan menjelang masa dewasa-madya. Yang mana usia dewasa madya itu 30-35 tahun,” ungkapnya.

Pihaknya pun turut menyoroti angka pernikahan yang menurun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Amalia tak menampik, tren “Marriage is Scary” ini menjadi salah satu faktornya, meskipun bukan penyebab utama.

BACA JUGA: Bantah Tren Pernikahan Menurun, DP3AP2KB Jawa Tengah: Justru Masih Banyak Nikah di Bawah Umur

“Penurunan angka pernikahan terjadi karena alasan pandangan mengenai pernikahan yang menakutkan, ketakutan akan kegagalan. Atau bisa jadi karena kebutuhan untuk menggapai aspirasi yang lain,” katanya.

Sehingga, hal-hal lainnya seperti ingin melanjutkan karier atau pendidikan turut menjadi faktor angka pernikahan yang menurun baginya.

“Alasan ‘saya memang mau berkarya dulu’, ‘saya mau menempuh pendidikan dulu’, ‘saya mau bekerja dulu, mapan dulu’. Bisa jadi karena dua hal itu,” sambungnya.

Namun, kenapa masih marak pernikahan dini?

Kendati pernikahan menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang, namun fenomena pernikahan di bawah umur masih sering terjadi hingga saat ini.

Amalia membeberkan jawaban atas kontras yang terjadi. Baginya, hal itu berkaitan dengan kematangan emosional.

Menurutnya, pernikahan di usia remaja yang masih marak saat ini tak lepas dari teori psikologi perkembangan.

BACA JUGA: Ngaku Ingin Menikah Lagi usai Cerai dari Reza Arap, Wendy Walters Ungkap Kriteria Calon Suami Ini

“Ketika seseorang ada di masa remaja, mereka merasa seolah-olah berada di atas awan. Artinya, mereka merasa tidak terkalahkan. Jadi [beranggapan] gak apa-apa gitu, bisa kuatasi ini semua, melebihi orang-orang yang lebih dewasa,” tutur Amalia.