SEMARANG, beritajateng.tv – Rencana impor 105.000 mobil pikap untuk Koperasi Desa Merah Putih memicu kontroversi nasional. Program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu justru menghadapi kritik tajam parlemen dan kalangan industri.
Informasi tersebut beroleh tanggapan pengamat politik Hersubeno Arief dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Minggu, 22 Desember 2026. Ia menyoroti keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara yang memilih produk India.
“Ini angka yang sangat besar, sampai Rp24 triliun lebih. Bagaimana enggak banyak yang mempertanyakan?” ujar Hersubeno. Ia menilai kebijakan tersebut mengundang tanda tanya publik.
Dua produsen India terlibat dalam proyek itu, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors. Total 105.000 unit bakal masuk bertahap sepanjang 2026.
BACA JUGA: Koperasi Merah Putih Kunden Blora Resmi Kelola 24 Kolam Bioflok Lele: Bantuan dari KKP RI
Hersubeno menegaskan kapasitas industri nasional sebenarnya mencukupi. “Kalau produksi dalam negeri mampu, kenapa harus impor?” katanya.
Ia mengutip data Kementerian Perindustrian tentang kapasitas produksi pikap yang mencapai satu juta unit per tahun.
Data Gaikindo menunjukkan kapasitas nasional roda empat mencapai 2,5 juta unit per tahun. Untuk segmen pikap, kapasitas terpasang melebihi 400.000 unit.
DPR RI Minta Pengadaan Pikap untuk Koperasi Merah Putih dari Industri Lokal
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menilai pengadaan besar harus memperkuat manufaktur nasional. Ia mengingatkan kewajiban penggunaan produk dalam negeri sesuai regulasi.
Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Gobel, bahkan menyebut langkah impor berpotensi menyimpang dari semangat Asta Cita. “Kita jangan sampai membiayai industri negara lain,” tegasnya.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menghitung potensi dampak ekonomi mencapai Rp27 triliun jika produksi berlangsung lokal. Industri ban, kaca, baterai, logam, hingga elektronik bakal menerima efek berganda.
TONTON JUGA: Podcast Koperasi Merah Putih Strategi Ekonomi Ala Prabowo?
Hersubeno juga mempertanyakan kesiapan jaringan servis. “After sales service itu krusial. Jangan sampai lebih murah di awal, tapi mahal saat perawatan,” ucapnya.
Ia menilai kebutuhan spesifikasi 4×4 belum tentu relevan seluruh desa. Agrinas berdalih harga impor jauh lebih kompetitif. Namun, Hersubeno menilai alasan tersebut harus diuji terbuka.
“Kalau beli dalam jumlah besar, mestinya bisa negosiasi harga lebih baik,” tandasnya. (*)





