SEMARANG, beritajateng.tv – Minimnya partisipasi laki-laki dalam program Keluarga Berencana (KB) di Jawa Tengah kembali menjadi sorotan. Di tengah tingginya penggunaan kontrasepsi modern, keterlibatan pria terutama melalui metode vasektomi masih sangat rendah.
Berdasarkan Data Pendataan Keluarga 2025, penggunaan vasektomi di Jawa Tengah baru mencapai 0,13 persen dari sekitar 5,9 juta pasangan usia subur (PUS). Sementara itu, penggunaan kondom juga hanya berada di angka 3,15 persen.
Angka tersebut jauh tertinggal dibanding metode kontrasepsi yang dijalani perempuan, seperti suntik (37,1 persen), implant (11,1 persen), pil (4,5 persen), hingga IUD (7,4 persen). Sementara itu, penggunaan kondom pada pria juga hanya sekitar 3,15 persen.
Persepsi Maskulinitas Jadi Penghalang
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si, melihat rendahnya minat vasektomi juga berkaitan erat dengan faktor psikologis, terutama persepsi tentang maskulinitas dan harga diri laki-laki.
Menurutnya, minimnya informasi membuat banyak pria yang salah memahami prosedur vasektomi.
“Informasi tentang vasektomi itu masih sangat kurang. Yang sering datang ke penyuluhan KB itu ibu-ibu, jarang bapak-bapak mau mendengar. Akhirnya mereka merasa sudah tahu, padahal belum tentu benar,” jelasnya kepada beritajateng.tv pada Sabtu, 18 April 2026.
Ia menyebut, dalam perspektif psikologi, harga diri laki-laki kerap terikaitkan dengan tiga aspek utama, yakni seksual, jabatan, dan finansial. Vasektomi kerap disalahartikan dapat mengganggu aspek tersebut.
“Laki-laki itu kadang berpikir, kalau vasektomi nanti saya tidak ‘lanang’ lagi. Padahal itu tidak benar,” ungkapnya.
Probowatie menegaskan, persepsi yang berkembang di masyarakat sering kali keliru, bahkan menyamakan vasektomi dengan kebiri.
“Banyak yang berpikir vasektomi itu dikebiri, padahal beda. Fungsi seksual tetap ada, hanya tidak bisa membuahi,” tegasnya.
BACA JUGA: Kota Semarang Berhasil Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya edukasi yang tepat dan komunikasi yang terbuka, baik dari pemerintah maupun lingkungan sosial.
Menurutnya, selama ini pendekatan edukasi KB lebih banyak menyasar perempuan, sementara laki-laki jarang di libatkan secara aktif.





