Hal itu Gus Yasin ungkap dalam acara Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah bertajuk “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah”, di Pendopo Kabupaten Banjarnegara, Minggu, 10 Mei 2026 lalu.
Menurutnya, penguatan perlindungan santri ԁilakukan melalui sinergi antara Pemprov Jateng dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah.
“Intinya adalah edukasi ke pesantren-pesantren tentang pentingnya perlindungan santri. Kemudian pembentukan satgas anti-bullying dan anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Gus Yasin.
BACA JUGA: PWNU Jateng Tegaskan Pelaku Pencabulan Ponpes Pati Bukan Kiai NU, Gus Rozin: Dia Tabib Dukun
Ia menegaskan, perlindungan santri tidak cukup dengan penanganan kasus belaka. Namun, harus ԁibangun melalui sistem yang terintegrasi dengan penguatan kesehatan, pendidikan, dan pendampingan psikologis.
Gus Yasin menyebut Pemprov Jateng juga mengintegrasikan program Dokter Spesialis Keliling (Spelling) dengan program anjangsana pesantren oleh RMI NU Jateng. Melalui skema tersebut, layanan kesehatan akan masuk langsung ke lingkungan pondok pesantren.
Dalam hematnya, layanan itu tidak sebatas pemeriksaan kesehatan fisik, tetapi juga akan ԁiperkuat dengan pendampingan psikolog dan psikiater.
“Kasus kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut bicara. Karena itu, kami sedang merumuskan kanal aduan khusus yang bisa ԁiakses secara profesional, termasuk lewat layanan telemedis,” terang Gus Yasin. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





