Hukum & Kriminal

PWNU Jateng Tegaskan Pelaku Pencabulan Ponpes Pati Bukan Kiai NU, Gus Rozin: Dia Tabib Dukun

×

PWNU Jateng Tegaskan Pelaku Pencabulan Ponpes Pati Bukan Kiai NU, Gus Rozin: Dia Tabib Dukun

Sebarkan artikel ini
PWNU Kiai Pati Wonogiri
Ashari, kiai cabul tersangka dugaan pemerkosaan sejumlah santriwati di Pati usai ditangkap aparat kepolisian. (ist)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah meluruskan status kiai sang pelaku kasus dugaan kekerasan seksual di pondok pesantren (ponpes) wilayah Tlogowungu, Kabupaten Pati, berinisial AS.

Ketua PWNU Jawa Tengah, K.H. Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan sosok AS bukanlah kiai NU seperti yang selama ini beredar di publik, melainkan seorang tabib atau dukun yang kemudian mendirikan rumah yatim hingga berkembang menjadi pesantren.

“Dia itu sebetulnya bukan kiai ya, dia itu tabib dukun. Ini yang perlu kita klarifikasi karena di mana-mana ԁisampaikan sebagai kiai,” ujar Gus Rozin saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Jumat, 8 Mei 2026 sore.

Menurut Gus Rozin, awal mula aktivitas AS bukan mendirikan pondok pesantren, melainkan membuka rumah yatim gratis untuk masyarakat sekitar.

BACA JUGA: Ditangkap di Wonogiri, Kiai Cabul Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual Puasa 3 Tahun Dekat Makam

“Tersangka ini awalnya membuka rumah yatim yang ԁigratiskan; kemudian berkembang menjadi sekolah,” jelasnya.

Ia mengaku tidak mengetahui sejak kapan lembaga tersebut akhirnya memperoleh izin sebagai pondok pesantren.

“Saya sendiri enggak tahu sejak kapan rumah yatim ini mendapatkan izin pesantren. Itu mungkin Kemenag yang bisa menjawab,” lanjutnya.

Selain itu, Gus Rozin juga menegaskan bahwa pesantren tersebut bukan bagian dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) atau asosiasi pesantren NU.

“Kalau ԁinamakan pesantren, itu bukan anggota RMI NU,” tegasnya.

PWNU Sebut Korban Kiai Cabul Pati yang Terdata Baru Empat sampai Lima Orang

Di sisi lain, Gus Rozin mengatakan jumlah korban yang selama ini beredar di publik masih belum pasti. Menurut informasi yang PWNU Jawa Tengah terima, hingga saat ini korban yang terdata baru berkisar empat sampai lima orang.

“Sejauh yang kami ketahui itu ada empat sampai lima korban. Yang tiga mencabut laporannya, yang satu masih bersikukuh melaporkan,” katanya.