Jateng

Rumah Arwah Tionghoa di Pecinan Semarang, Tradisi Menjaga Kehidupan Mereka yang Telah Pergi

×

Rumah Arwah Tionghoa di Pecinan Semarang, Tradisi Menjaga Kehidupan Mereka yang Telah Pergi

Sebarkan artikel ini
Rumah Arwah Semarang
Pengrajin rumah arwah, Ong Bing Hok, saat menunjukkan bentuk rumah arwah yang akan dikirim, Sabtu, 7 Februari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Ia menjelaskan, pengiriman rumah arwah biasanya dilakukan pada hari ke-49 setelah kematian, karena diyakini pada masa itulah arwah mulai meninggalkan dunia fana. Proses pembakaran rumah arwah selalu disertai doa dan ritual khusus.

Menariknya, Ong menegaskan rumah arwah tidak boleh meniru rumah orang hidup secara persis. “Kalau rumah duniawi dikirim ke alam arwah, bisa mengundang godaan halus. Arwah jadi tidak tentram,” jelasnya.

Nantinya, miniatur rumah atau rumah arwah itu akan keluarga sang pemesan bakar. Upacara pembakaran rumah arwah itu akan berlangsung 49 hari setelah kematian. Rumah arwah itu konon sebagai tempat tinggal arwah yang meninggal di alam baka.

“Dalam kepercayaan kami, orang meninggal rohnya harus diberi rumah. Kalau tidak, arwahnya bisa tersesat,” imbuhnya.

Dari Rumah Tiongkok hingga Desain Modern

Seiring zaman, desain rumah arwah pun ikut berubah. Jika dahulu dominan bentuk rumah tradisional Tiongkok menyerupai kelenteng, kini banyak keluarga memilih model rumah modern hingga minimalis.

Tak jarang, pembuatan pesanan sangat personal. Ada rumah lengkap dengan karaoke, mesin dingdong, meja mahjong, sepeda motor trail, bahkan pesawat dan kapal kargo, bahkan ada permintaan berbentuk hotel.

“Semua sesuaikan dengan kesenangan almarhum semasa hidup. Supaya di sana tidak ada keinginan yang tertahan,” tutur Ong.

Harga rumah arwah bervariasi, mulai dari Rp3 juta hingga puluhan juta rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Pembuatan rumah sederhana memakan waktu sekitar satu minggu, sementara rumah besar pengerjaannya bisa hingga satu bulan.

BACA JUGA: Cerita Pengrajin Barongsai Semarang, Menjaga Tradisi di Tengah Lonjakan Pesanan Imlek

Lokasi pembuatan rumah arwah berada di deretan bangunan tua Pecinan Semarang, beratap genteng cokelat kusam dengan tanaman-tanaman rambat hijau.

Di dalam ruangan, aroma kertas, bambu, dan lem bercampur menjadi ciri khas. Cahaya matahari menyelinap melalui pintu kayu, menerangi miniatur rumah arwah yang berjajar menunggu proses akhir.