Tak jarang warga atau pemesan datang langsung, berbincang sambil menyaksikan Ong Bing Hok dan asistennya merakit rumah dengan tangan-tangan terampil yang telah terasah puluhan tahun.
Meski zaman terus berubah, Ong Bing Hok yakin tradisi rumah arwah tak akan pernah benar-benar hilang. “Tradisi kebudayaan ini bisa berkurang atau bertambah, tapi tidak bisa hilang. Ini sudah mengakar,” ucapnya mantap.
Kini, ia berharap generasi berikutnya tetap mau meneruskan warisan ini, agar rumah-rumah untuk mereka yang telah pergi tetap berdiri, setidaknya dalam doa, kertas, dan bambu, di tengah denyut Pecinan Semarang. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




