SEMARANG, beritajateng.tv – Di sebuah gang sempit kawasan Pecinan Semarang, suara bambu dipotong dan kertas warna-warni direkatkan menjadi irama keseharian yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Di sanalah Ong Bing Hok, pria berkacamata berusia 77 tahun, tekun merakit rumah arwah, sebuah simbol penting dalam tradisi Tionghoa untuk menghormati leluhur dan kerabat yang telah meninggal dunia.
Rumah arwah itu berdiri di atas rangka bambu, berlapis kertas dan karton dengan detail yang nyaris menyerupai rumah sungguhan. Atap genteng tercetak rapi, jendela dan pintu simetris, bahkan halaman kecil turut tersemat.
Di sela proses perakitan, Ong Bing Hok tampak memeriksa setiap sudut dengan teliti, memastikan tak ada bagian yang terlewat.
“Tradisi rumah arwah ini sudah ada sejak kakek buyut saya. Saya ini generasi keempat yang meneruskan,” tutur Ong Bing Hok saat beritajateng.tv temui di tempat kerjanya pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Rumah Arwah: Warisan dari Tiongkok yang Berakar di Semarang
Menurut Ong, kakek buyutnya, Ong See berasal dari Hokkian, Provinsi Fujian, Tiongkok. Ia hijrah ke Indonesia dan membawa keterampilan membuat kerajinan kertas yang kala itu masyhur sebagai kokoa, pekerjaan seni berbasis kertas untuk keperluan ritual dan kebudayaan.
Tradisi itu sempat terhenti pada masa diskriminasi, namun tetap bertahan secara diam-diam hingga akhirnya kembali berkembang setelah era reformasi.
“Setelah zaman Presiden Gus Dur, diskriminasi dicabut. Tradisi ini hidup lagi dan pelan-pelan meningkat sampai sekarang,” ujarnya.
Meski sempat menurun saat pandemi, pesanan rumah arwah kembali berdatangan, terutama menjelang Imlek dan momen-momen peringatan kematian seperti 49 hari, 100 hari, hingga setahun.
BACA JUGA: Menjelang Imlek, Boneka kuda dengan Ekspresi Menangis Sontak Jadi Sorotan
Dalam kepercayaan Tionghoa, rumah arwah bukan sekadar replika bangunan, melainkan simbol doa agar arwah leluhur hidup tenang di alam sana.
“Rumah arwah itu dikirim supaya arwah tidak terlantar. Kalau di sana tenang dan bahagia, yang di dunia juga ikut merasakan ketentraman,” kata Ong.




