Untuk menjaga keberlangsungan proyek rumah subsidi, para pengembang sementara ini memilih memangkas margin keuntungan. Sugiyatno menyebut margin pengembang turun sekitar 15 hingga 20 persen, sejalan dengan kenaikan harga material.
“Saat ini yang bisa 𝖽ilakukan adalah menurunkan margin pengembang. Karena kualitas bangunan tidak bisa 𝖽ikurangi, maka margin yang menyesuaikan,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Himperra Jateng telah mengusulkan penyesuaian harga jual rumah subsidi kepada pemerintah. Saat ini harga rumah FLPP di Jawa Tengah berada di kisaran Rp166 juta per unit.
BACA JUGA:Ā Program Rumah Subsidi Bantu Ribuan ASN MBR di Pati Wujudkan Hunian Layak
Menurut perhitungan pengembang, harga ideal rumah subsidi saat ini berada pada rentang 12-15 persen lebih tinggi 𝖽ibanding harga yang berlaku saat ini. Dengan demikian, harga rumah subsidi 𝖽inilai layak naik ke kisaran Rp180 juta hingga Rp186 juta per unit.
Selain kenaikan material, pengembang juga menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya tenaga kerja seiring naiknya upah tukang dan ongkos pekerjaan konstruksi di lapangan. Kondisi tersebut semakin menambah beban biaya pembangunan rumah subsidi yang menjadi program andalan pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kami berharap pemerintah mempertimbangkan kenaikan harga jual rumah FLPP. Kalau sekarang Rp166 juta, idealnya bisa di angka Rp180 jutaan. Dengan kenaikan sekitar 12 sampai 15 persen, pengembang masih bisa bergerak untuk melakukan pengembangan,” tegasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





