“Untuk Magelang-Temanggung, kami sudah lakukan komitmen bersama dengan Bupati Temanggung, Bupati Magelang, dan Wali Kota Magelang. Bentuknya kolaborasi antara provinsi dengan kabupaten dan kota,” ungkap Miko.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar angkutan aglomerasi Trans Jateng dapat terintegrasi dengan angkutan perkotaan dan pedesaan yang pemerintah kabupaten/kota kelola.
“Kami inginnya angkutan aglomerasi ini nanti terintegrasi dengan angkutan perkotaan dan angkutan pedesaan yang kabupaten dan kota kelola,” katanya.
BACA JUGA: Demi Pelayanan Publik, Kehadiran Bus Trans Jateng Tidak untuk Kepentingan Bisnis
Miko menjelaskan, pemilihan rute baru Trans Jateng berdasarkan pada visi pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Pertimbangannya menyesuaikan konsep RPJMD. Gubernur punya tahapan, dan tahapan berikutnya itu kepariwisataan,” ujarnya.
Oleh sebab itu, tutur Miko, rute yang mendukung kawasan wisata menjadi prioritas utama pengembangan Trans Jateng. Sementara untuk kawasan industri, Dinas Perhubungan Jateng menyiapkan rute aglomerasi seperti Petanglong.
“Makanya pendekatan kita membuka rute yang mendukung konsep kepariwisataan. Temanggung-Magelang sampai Borobudur. Kalau yang kawasan industri, itu Petanglong (Batang-Pekalongan). Semarang-Bawen kan juga sudah kawasan industri,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





